film

Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

supernova 2

Ferre dan Diva

Kesan pertama ke film ini: megah dan modern. Settingnya luar biasa, mewah dan mewakili masing-masing karakter yang kontras satu sama lain. Tapi di balik semua bangunan kontemporer itu, ada ruang-ruang yang luas dan sepi. Ruang kerja Ferre yang luar biasa besar dan sepi. Rumah Ferre dan Diva yang terlalu luas ditinggali sendiri. Bahkan, untuk Rana dan Arwin yang berdua–rumah besar mereka sunyi. Itu menjadi bagian terbaik dari film ini, bagaimana mereka memotret kesepian orang-orang kota tersebut di tengah waktu yang berjalan cepat dan orang-orang yang ramai di sekitar mereka.

Karakter-karakter tersebut mencoba mencari makna di antara kesibukan dan komunikasi yang tak terucap. Jawaban-jawaban yang mereka tanyakan sendiri dan akhirnya dilemparkan kepada sang Supernova, cyber avatar.

Supernova menjadi inti dari cerita film ini. Yang menjadi simpul dari karakter-karakter yang awalnya terlihat tak terkoneksi satu sama lain. Di awal, film ini seakan punya tiga subplot: Dimas & Ruben; Ferre, Rana, & Arwin, lalu Diva dan pria-prianya.

Film ini dibuka oleh pertemuan Dimas dan Ruben ketika mereka kuliah di Washington. Pertemuan pertama dan langsung klik. Pertemuan pertama dan mereka langsung berikrar jika dalam 10 tahun akan membuat sebuah tulisan yang menggugah.

supernova 3

Ruben dan Dimas

Sepuluh tahun berlalu. Kita bertemu lagi dengan Dimas dan Ruben dengan kopi dan laptop, siap untuk mengonsep dan menulis sesuatu. Lewat narasi mereka, muncullah Ferre seorang eksekutif muda yang sukses sukses (iya sukses banget) dan Rana, seorang reporter majalah lifestyle yang siap mewawancarai Ferre. Dan mereka bertemu, diawali kedatangan seorang kupu-kupu putih di kantor Ferre di gedung tinggi. Pertemuan pertama dan mereka bicara banyak. Ferre mendongengkan tentang Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (yang diceritakan dengan animasi).

Ferre dan Rana jatuh cinta. Dimas dan Ruben makin tenggelam dengan obsesi mereka menerangkan cinta lewat teori sains.

Ya, Dimas dan Ruben menjelaskan itu, tentang badai serotonin, kucing schrodinger, titik bifurkasi, dan lain-lain. Namun semua seperti angin lalu. Momen mereka menjelaskan terlalu singkat, belum sempat mencerna apa yang mereka berikan, adegan sudah kembali ke subplot Rana-Ferre yang tentunya lebih menarik. Meski tidak jarang, di pergantian adegan Dimas-Ruben ke Rana-Ferre, kita ditemani narasi yang mengantar masuk ke Rana Ferre. Tapi itu tidak bekerja maksimal. Dimas dan Ruben masih tetap orang asing yang jauh dari Rana dan Ferre. Orang asing yang sibuk dengan keasikan mereka sendiri yang sulit dimengerti.

Kemudian, apa yang keluar dari mereka, tentang penjelasan sains yang sebenarnya sudah sederhana itu kayak mengawang-awang. Kayak hanya diucapkan aja tanpa mereka mengerti (aku harap mereka mengerti). Jadi nggak kerasa kedalamannya, kerasa kayak kuliah yang dosennya buru-buru banget.

Bahkan, dialog yang terasa kurang natural ini kurang terjadi di subplot Rana-Ferre. Beberapa dialog kerasa banget kalau itu buatan, sesuatu yang dipaksa diucapkan dan kaku. Meski makin ke kebelakang, karakter Rana, Ferre, dan Arwin kian terasa hidup. Dan itu bikin cerita dan karakternya terasa jauh banget.

Tentang dialog ini, aku nggak tahu apakah masalahnya bersumber dari script atau miscast. Ferre sendiri yang diperankan Herjunot Ali, yaaa dia bisa menyampaikan dialog dan ekspresi karakter dengan baik, tapi dia nggak punya kharisma Ferre. Ferre ini salah satu karakter cowok yang bikin aku tergila-gila sampai sekarang. Aku selalu membayangkan dia dengan badan tegap, wajah persegi, punya tatapan mata tajam, dan bikin orang terpana/menyeganinya hanya dengan melihat saja. Satu yang paling kutangkap dari Ferre adalah bagaimana tragedi dan pertanyaan-pertanyaan dalam hidupnya itu tercermin pada wajahnya, membangun ekspresinya. Nah, Junot ini punya wajah dan ekspresi yang terlalu halus, terlalu lembut untuk seorang Ferre.

Arwin yang diperankan Fedi Nuril, yang terbaik di antara semuanya. Tanpa karakter Arwin, cerita cinta Rana-Ferre pasti hambar banget. Rana diperankan oleh Raline Shah–aku selalu membayangkan Rana ini seperti Dian Sastro yang mukanya Jawa banget dan ya… akting nangisnya kentara kikuk banget. Dimas (Hamish Daud) dan Ruben (Arifin Putra)… harusnya dibalik! Hahaha. Serius, Junot jadi Dimas, Hamish sebagai Ruben, dan Arifin sebagai Ferre.

Dan yang terakhir, kembang dari kisah ini, Diva Anastasia diperankan Paula Verhoeven, seorang model. Secara fisik dia memang mewakili Diva banget. Tinggi, jenjang, cantik, matanya tajam, mukanya tegas, dan suaranya berat (bukan tipe cewek-cewek sekarang yang melengking uh). Sayangnya, apa karena ini akting pertama dia… ada sesuatu yang nggak muncul dari Diva yang diperankannya. Aktingnya nggak jelek, hanya saja ketika lihat cahaya matanya–semua yang dia lakukan kentara banget sebagai akting, bukan dia sebagai Diva. Lalu, saat bicara, mengucapkan kalimat-kalimat Supernova yang magis dan menyentil itu, lagi-lagi seperti angin lalu saja. Aku berharap seseorang seperti Sophia Latjuba, atau yang seperti Charlize Theron atau Rosamund Pike–sosok yang punya kharisma bukan cuma dari tampang yang intimidatif saja, tapi semua kharisma itu kelihatan memancar dari gerak-gerik, sorot mata, sampai cara bicara.

Di bagian akhir cerita, ada beberapa adegan terlepas dari kenyataan dalam cerita itu. Semacam fantasi, semacam tempat lain yang didatangi Ferre ketika dia sedang jatuh-jatuhnya. Ya, itu menghasilkan kesan ganjil dan aneh, juga magis. Tapi ketika Ferre kemudian ada di tengah bintang-bintang, lagi-lagi itu bikin suspension of disbelief-ku runtuh! Padahal adegan ketika dia bertemu Diva di sebuah padang batu putih (pantai ya?), itu bagus dan hidup.

Aku kira cerita akan berakhir di situ. Ternyata, endingnya masih panjang. Terlalu panjang menurutku. Ini bukan novel, ini film. Dan sebuah adegan perpisahan yang apik Ferre dan Diva, mestinya cerita berhenti sampai di situ.

Ferre dan Rana

Ferre dan Rana

Aku memang sudah baca bukunya sejak sekitar 10 tahun lalu dan jadi die hard fan-nya sejak itu. Tentunya itu mempengaruhi banget penilaianku tentang cast di film ini, karena sejak 10 tahun lalu aku punya bayangan sendiri. Tapi memang karakter yang menghidupkan banget cerita ini. Aku sendiri nggak keberatan dengan hilangnya karakter Gio dari film, tiga subplot yang ada memang sudah cukup banyak. Banyak juga detail yang berbeda dengan bayanganku ketika baca buku, seperti rumah Ruben dengan buku-buku-buku sampai langit-langit itu tak terlihat di film ini. Tapi bagiku detail-detail yang hilang itu bisa kuterima, filmnya adalah filmnya.

Supernova KPBJ memang bukan buku yang mudah diadaptasi. Novel ini berat eksposisi yang bikin puyeng bagaimana harus bikin di versi adaptasinya. Banyak dialog yang memang diambil langsung dari buku, tapi untuk penjelasan yang terlalu panjang seringkali… itu nggak bisa bekerja di layar. Ketika baca buku, kita bisa balik lagi dan membaca ulang, memaknai lagi dan lagi. Ketika nonton, penjelasan panjang dari Dimas, Ruben, Diva… terasa selewat saja, bahkan beberapa kali itu jadi terasa kurang penting dengan plot yang ada.

Film ini bukan adaptasi yang bagus banget, tapi nggak jelek banget juga. Buat yang sudah membaca KPBJ tentunya lebih mudah dan ringan mengikuti. Sementara untuk yang belum baca, nontonlah tanpa ekspektasi apa-apa dan bacalah bukunya kemudian.

2 thoughts on “Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

  1. “Aku selalu membayangkan dia dengan badan tegap, wajah persegi, punya tatapan mata tajam, dan bikin orang terpana/menyeganinya hanya dengan melihat saja.”

    Somehow reminds me to Mr. Grey. Atau ini sudah menjadi rumusan karakter pria-fiksi keren?🙂

    Salam kenal

    • Hmm… nggak juga sih. Dulu novel ini keluar sebelum Mr. Grey dan aku nggak pernah bikin koneksi tersebut. Hahaha. Tapi kalau dibayang-bayangin dari deskripsi yang ada di novelnya, yap, seperti itu sih yang kubayangkan.

      Dan pria ‘keren’ itu relatif, bahkan di dalam fiksi!

      Salam kenal juga.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s