anime / film

Anohana: The Flower We Saw That Day

anohana

Kalian ingat bunga yang kita lihat hari itu?

Pertanyaan itu hampir tak pernah terlayangkan. Tapi ‘hari itu’ cukup untuk merujuk ke suatu masa yang jauh. Lima tahun yang lalu, setelah kematian Menma (Meiko Honma). Musim panas bulan agustus itu, Jintan yang kepanasan tiba-tiba mendengar suara-suara yang dia kira halusinasi. Dan ternyata… eeee… itu adalah sahabatnya yang sudah meninggal, Menma.

Lima tahun berjalan. Semua hal berubah. Bukan hanya Jintan, tapi juga kelompok Super Peace Busters. Tsuruko, Yakiatsu, Anaru, dan Poppo, semua beranjak dewasa dan menjalani hidup sendiri-sendiri. Namun, tak ada seorang pun yang bisa lepas dari masa lalu. Hari itu, hari itu melekat erat di punggung mereka.

Sebelas episode Anonaha yang dirilis tahun 2011 ini menceritakan momen ketika mereka berlima harus berjuang lepas dari beban kenangan buruk. Kadang kita butuh bicara, kadang perlu berjumpa dengan teman, mengaku apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita. Semua itu kelihatan mudah, tapi saat kamu ada di situasi mereka berlima–itu sama sekali tidak mudah. Mencoba lepas dari duka adalah usaha yang berat. Terlebih mereka berlima adalah orang terakhir yang jadi saksi mata Menma yang selalu ceria.

Itulah yang menyebabkan setiap karakter punya trauma sendiri. Rasa bersalah yang mereka tanggung dan pendam. Bagaimana jika, bagaimana jika, bagaimana jika. Pertanyaan itu bolak-balik dalam hidup mereka. Ketika bertemu dengan yang lain, rasa bersalah itu bangkit lagi. Seharusnya kalau hari itu aku… seharusnya kalau aku nggak ngomong begitu… seharusnya kalau aku nggak mengejar Menma… seharusnya kalau aku bisa menghentikan mereka semua… seharusnya kalau aku bisa menolong Menma, bukan hanya melihatnya tenggelam dan hanyut.

Di umur semuda itu, aku bisa mengerti trauma mereka. Sekecil itu dan melihat sahabat sendiri tenggelam. Pastilah berat.

Namun, berjuang lepas dari duka bukan hanya dialami mereka berlima. Tapi juga keluarga Menma, terutama ibunya yang tidak bisa menerima kenyataan. Mengabaikan hidupnya dan keluarganya. Subplot ini adalah salah satu yang paling powerful sepanjang cerita. Momen ketika ibunya Menma marah kepada mereka berlima karena kenapa cuma Menma yang nggak bisa tumbuh dewasa… itu mengiris banget.

Salah satu adegan lain yang membekas banget buatku adalah insiden ‘hantu Menma jadi-jadian’. Ketika mereka tahu siapa sebenarnya si hantu. Bagaimana dia lari dan jatuh nggak berdaya. Memperlihatkan siapa yang paling terluka. Luka yang berubah jadi obsesi.

Anohana bikin aku berkaca-kaca sejak awal. Aku memang lemah sama cerita yang berisi tragedi, duka, persahabatan, keluarga. Melihat masa kecil mereka yang hangat dan kemudian pecah berkeping-keping, rasanya sedih sekali. Banyak airmata di sini, tapi di akhir cerita, kamu nggak bisa menahan senyum. Hari yang kelam bisa lewat. Mendung akan berganti hujan dan pelangi.

Meskipun endingnya sendiri agak terasa gimana gitu ya buatku. Ya itu happy ending. Aku merasa kalau cerita ini diselesaikan satu episode sebelumya. Ketika mereka selesai meluncurkan kembang api, sebelum Jintan menengok ke belakang. Itu akan terasa lebih heartbreaking dan haunting. Tapi ending itu mungkin nggak sesuai dengan tujuan cerita yang ingin memperlihatkan bagaimana mereka bergelut dengan masa lalu dan maju.

anohana live action

Selain versi animenya, Anohana juga punya film (tahun 2013) dan drama TV spesial (2015). Aku menghabiskan semuanya dalam dua hari.

Anohana (film 2013) bercerita setahun setelah kejadian di anime. Lebih kerasa seperti rangkuman animenya sih, sementara cerita tambahannya justru porsinya sedikit banget. Bagus ditonton kalau kamu habis maraton 11 episode, terus belum bisa move-on, jangan ngulang 11 episode itu, nonton aja yang film versi 2013. Durasinya 99 menit dan hampir semua adegan krusial Anohana ada.

Di film 2013, mereka punya adegan petak umpen di kuil ketika masih kecil. Itu salah satu adegan terbaik. Aku berharap adegan itu ada di versi live action-nya. Harapanku nggak terwujud sih, karena live action-nya berdasarkan anime banget.

Versi live action-nya merangkum dan memadatkan cerita 11 episode Anohana jadi dua jam. Yo, beberapa subplot harus dipotong, untuk mempertahankan adegan-adegan. Plotnya sendiri masuk akal. Ada juga hal-hal yang mesti dibedakan kayak ketika Menma memberitahu keberadaannya kepada Super Peace Buster. Adegan tambahan yang bagus banget di live action ini adalah ketika Poppo mencari Jintan dan Menma. Kemudian dia lihat sandal Menma di pinggir bukit. Adegan setelah Menma jatuh ini aku memang tunggu-tunggu banget karena di animenya agak kurang gambarannya.

Di live action ini juga mereka menambahkan detail simbol infinity, sebagai lambang persahabatan mereka yang harus untuk selamanya. Yang seru melihat pemain-pemain di live action ini mirip-mirip betul dengan versi animenya. Haha. Bahkan setting-nya, semua detail-detail kecil. Jadi, sebagai cerita sendiri, kalau pun belum pernah nonton animenya, versi drama spesial ini bisa banget dinikmati.

Menonton Anohana menyisakan beberapa hal dalam pikiran. Kita dibawa ke masa lalu, mengenang masa kecil, mengenang sahabat-sahabat. Apalagi, sebelum ini aku sempat menulis cerita pendek tentang anak-anak yang beranjak dewasa–bagaimana impian mereka ketika kecil dipelintir realitas. Aku harap, Jintan, Poppo, Anaru, Tsuruko, dan Yakiatsu akan selalu berteman, selamanya.

Jadi, ingat bunga yang kita lihat di tepi jalan hari itu?

Mereka bilang: Ano Hi Mita Hana no Namae wo Bokutachi wa Mada Shiranai. Kami masih belum tahun nama bunga yang kami lihat hari itu.

Namun mereka percaya bunga itu akan tumbuh, berganti sesuai musim, seperti halnya mereka yang tumbuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s