buku

Hilangnya Maryam

hilangnya maryaaaaaaam oi oi

Aku memulai perjalanan mencari Hilangnya Maryam dari ‘Cinta Putih’. Berkenalan dengan Utari yang hanya mau menikah karena cinta. Banyak pemuda baik dihadapkan kepadanya, tapi ditolaknya. Belum sempat aku bertanya tentang Maryam, Utari sudah keburu jatuh cinta. Saat datang kesempatan yang lain, ternyata Utari… ah….

Akhirnya aku melanjutkan perjalananku mencari Maryam. Bertemu Nila yang jatuh cinta pada Sengkuni (aku penasaran karena kok ada yang menamakan anaknya Sengkuni). Setelah itu, berkenalan dengan Sharon di Paris yang jurnalis majalah Kouge dan sibuk ke sana kemari, sibuk bernegosiasi agar keinginannya terwujud, agar keinginan orang lain terwujud. Hebat banget. Tapi saking sibuknya aku tidak sempat bertanya pada Maryam.

Aku kembali ke ‘Rumah’. Bukan rumahku, tapi rumah yang lain dan bertemu gadis yang tak bisa meyakini yang mana rumahnya. Padahal dia sudah dewasa, bisa menentukan hidupnya sendiri. Menentukan rumah saja tak bisa, apalagi membantuku mencari Maryam! Aku gegas ke tempat lain, kali ini tiba di rumah usang yang ditinggali gadis penyuka emas. Dia menceritakan tentang emas dan ‘mas’-nya. Aku ingin mendengarnya bertutur tentang alasan, motivasi, obsesinya terhadap emas, tapi yang diceritakannya hanya tentang hubungannya. Huh. Sudah tidak dapat apa-apa tentang Maryam, tak kebagian emas pun! Kalau dia waras, aku akan nasihati untuk investasi tas Hermes saja, harganya pasti naik setiap tahun! Hidup haute couture!

Dalam perjalanan beli tas Hermes, o la la, aku ketemu Prakoso, tukang susu cokelat yang masih muda kinyis-kinyis. Aromanya cokelat. Herannya mukanya sekeruh cokelat air kolam. Lesu karena Maryam hilang! Aku bantu dia mencari, ala Mulder dan Scully, ala anak-anak Gibbs di NCIS, ke tetangga, ke sahabat. Tapi justru tidak kudapat petunjuk di mana gerangan gadis cantik itu, malah yang kudengar bisik-bisik komat kamit berbagai versi tentang dia. Malangnya jadi gadis cantik, yang dibahas muka, dada, bokong melulu! Waktu berlalu dengan hasil nihil, aku dan Prakoso berpisah karena pemuda itu masih harus bekerja mengantar susu.

Aku naik kereta dan bertemu gadis yang sedang menuju Stasiun Tugu untuk menemui kekasihnya. Duduk di sebelahnya, aku terus-terusan dipetuahi tentang cinta, penyesalan, kerinduan, ya gitulah, aku dengarkan sambil ngantuk-ngantuk gitu dan memimpikan Maryam. Sampai di Bali, harapanku berkembang kembali. Kali ini teman perjalananku seru, namanya Luh Sri. Wanita karir di pasar dan nggak lembek menghadapi suaminya yang tukang adu ayam. Meski kadang suaminya suka mukul, Luh Sri nggak mau menyerah. Hebat!

Dari Luh Sri, aku ditunjukkan tukang bikin nasi kuning. Eh, karena melamun aku salah rumah. Memang perempuan itu sedang bikin nasi kuning, sambil menangisi pria yang dicintainya dulu yang hilang dari genggamannya. Tapi belum dikasih cicip nasi kuning, suami dan anaknya keburu datang. Ya sudah, aku menyingkir ke sebuah galeri seni. Mengintipi cowok ganteng perfeksionis dan gadis bertato yang mengikuti dia ke mana-mana. Di masa depan, aku ketemu dengan gadis itu, suka merokok, setengah linglung, dan lebam-lebam tubuhnya. Aku tanya:’Kamu dihipnotis?’. Dia cuma geleng-geleng, bingung. Halah, gimana aku bisa menemukan Maryam kalau begini.

Minta juga bantuan jurnalis kriminal untuk mencari, tapi dia sibuk sendiri karena pacarnya baru dibui! Maryam, Maryam, kamu di mana sebenarnya? Jalan tak tentu arah membawaku sampai ke tepi Alas Mentaok. Astaga, tahun berapa ini… kok ada woro-woro sayembara membunuh Arya Penangsang. Tapi yang lebih menarik perhatianku adalah perempuan hamil yang baru memanah rusa betina. Kereeen betul. Setelah itu, aku tahu dia sedang berusaha hamil lagi dan lagi, dari harus pakai selendang kuning berjampi-jampi hingga memecah simpanan untuk bayar bayi. Betapa keinginan mahal kita, jadi sesuatu yang sederhana bagi orang lain.

Keluar dari Alas Mentaok, aku belum menemukan Maryam. Akhirnya aku merenung ditemani Jon Osterman. Membayangkan lagi setiap perjalanan, setiap perempuan dan sosok perempuan yang muncul di sana. Semua punya gaya, punya sudut pandang sendiri, punya pilihan untuk menghadapi hidup.

Sebagian cerita terasa istimewa, sebagian lagi lumrah ditemukan di sekitar sebagai bahan gosipan sehari-hari. Sebagian menggunakan akalnya untuk memecahkan masalah, sebagian menangis, sebagian hilang akal karena masalahnya. Itu perempuan yang katanya rumit.

Mungkin rumit seperti Maryam yang tiba-tiba lenyap. Salah satu pentunjuk yang kudengar bahwa setiap yang kutemui punya warna-warna. Tapi yang kutemui, warna-warna pada mereka kebanyakan hanya jadi sesuatu yang kurang penting, sekadar gimmick saja.

Dari sebelas mata perempuan, aku tidak berhasil menemukan Maryam. Kembali aku terpikir akan Prasojo dan bagaimana caranya menceritakan tentang Maryam begitu menarik. Juga Darmini dan misteri Rusa Betina yang bikin aku ingin kembali menjelajah Alas Mentaok. Siapa tahu Maryam sembunyi di sana? Atau malah si Prakoso yang sembunyikan? Perempuan memang selalu diselubungi misteri!

Pringsewu, 2/2/16

Hilangnya Maryam. Antologi cerita pendek tentang perempuan dari 12 penulis bisa dibeli lewat Nulisbuku. Terbitan tahun 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s