buku

Jiwa yang Sanggup Meredam Gempa

Jiwa yang Sanggup Meredam Gempa, Raditya Nugie

Jiwa yang Sanggup Meredam Gempa, Raditya Nugie (Penerbit ByPass, 2016)

Di antara kita pasti masih banyak yang mengingat peristiwa gempa tahun 2004, 2006, dan yang beruntun terjadi setelahnya. Banyak orang yang kehilangan tempat tinggal, keluarga, bahkan kita ikut merasakan dukanya. Sesuai dengan judul, novel karya Raditya Nugie ini memang menggunakan dua event di tahun berbeda tersebut sebagai latar cerita.

Laskmi dan Agam sama-sama korban dari bencana gempa dan tsunami Aceh tahun 2004. Keduanya sama-sama kehilangan, Laskmi harus merelakan ayahnya, sementara Agam masih belum bisa benar-benar melepas kekasihnya. Tanpa sengaja keduanya bertemu ketika sama-sama menjadi relawan gempa Jogja tahun 2006.

Tentu saja, kenyataan bahwa keduanya sama-sama korban baru terkuak di pertengahan cerita. Intrik-intrik menjadi relawan dan tetek bengeknya menjadi latar penting yang menghidupkan cerita. Karakter-karakter pembantu, seperti Bung Atma, memberi peran penting dengan menjadikan kisah melankolis ini lebih hidup dan agak ceria.

Penuturan Raditya Nugie yang halus sangat berhasil membangun suasana haru dan melankolis. Mendayu-dayu menumbuhkan rasa kehilangan yang tertanam kuat di benak Laksmi, Agam, dan banyak pengungsi lainnya.

Kisah dalam buku ini diceritakan dari dua sudut pandang karakter utamanya. Sama-sama menggunakan sudut pandang orang pertama. Kedua sudut pandang disajikan dengan apik dan saling melengkapi satu sama lain. Walau, masih tetap sama-sama sangat melankolis.

Tulisan Raditya yang enak dibaca dan bab-bab yang pendek mudah menghanyutkan. Namun menjelang akhir, meski hubungan Laksmi dan Agama menghangat, tapi tidak ada konflik yang berarti. Mereka dekat, mereka berpisah, mereka bertemu lagi. Begitu datar, begitu saja berakhir.

Jiwa yang Sanggup Meredam Gempa seakan sebuah ungkapan rasa kehilangan yang dalam. Dan itu sangat terasa. Disampaikan dengan bahasa yang kasual dan ringan (meski sesekali si karakter mengutip dari filsuf terkenal). Buku ini seharusnya bisa dibaca dalam sekali duduk. Namun, ketika tiba di akhir, bersama-sama Laskmi dan Agam, kita mungkin akan ikut tersadar bahwa kehilangan adalah sesuatu yang tak dapat dicegah, tapi kita bisa memilih sikap bagaimana menghadapinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s