buku

The Three-Body Problem

IMG_20160304_170549

Judul: The Three-Body Problem

Penulis: Cixin Liu

Penerjemah (ke B. Inggris): Ken Liu

Penerbit: Tor

Tahun terbit: 2016 (paperback)

Harga: Rp232.000,- (via Periplus.com)

Jumlah halaman: 415

ISBN: 987-07653-8203-0

Blurb (kuterjemahkan ke Bahasa Indonesia)

“Melalui The Three-Body Problem, pembaca berbahasa Inggris mendapatkan kesempatan pertama mereka menikmati karya peraih berbagai penghargaan ‘Three-Body Trilogy’ dari penulis fiksi ilmiah kenamaan Tiongkok, Cixin Liu. Kini bagian pembuka dari seri tersebut sudah tersedia dalam paperback. Berlatar pada masa Revolusi Kebudayaan Tiongkok, sebuah proyek militer rahasia mengirimkan sinyal ke luar angkasa untuk membangun kontak dengan alien. Sebuah peradaban alien yang berada di tepi kehancuran menangkap sinyal tersebut dan berencana menginvasi Bumi. Sementara itu, di Bumi, berbagai kelompok mulai terbentuk, dari mereka yang pro terhadap kedatangan alien sebagai bantuan untuk membersihkan dunia yang korup, atau mereka yang kontra terhadap invasi tersebut. Hasilnya adalah sebuah karya masterpiece fiksi ilmiah yang memiliki cakupan dan visi luar biasa.”

Ulasan:

Tahun 2014-2015 adalah kejayaan untuk The Three-Body Problem. Setelah kali pertama diterbitkan di Tiongkok tahun 2008, buku ini berhasil mendobrak dunia SFF barat. Begitu sesasional. Begitu luar biasa.

Segala sensasi itulah juga yang menarik rasa penasaranku, selain karena penerjemahnya (Ken Liu) adalah salah satu penulis SFF favoritku. Aku agak menunggu lama, karena versi paperbacknya sendiri terbit jauh sesudah novel ini memenangkan Hugo Awards (penghargaan paling bergengsi di dunia SFF).

Seringkali ada perasaan lebih dekat ketika membaca kisah yang ditulis orang keturunan Asia sendiri. Itu juga yang terasa ketika menikmati The Three-Body Problem (TTBP). Perspektif karakter dan kebudayaan timur yang melekat terasa familier buatku.

Akan tetapi, hal tersebut tidak membiaskan penilaianku terhadap novel ini. Apa yang mereka sebut hebat dan luar biasa, memang jelas dari nyaris seluruh bagian TTBP. Karakter-karakter dalam cerita ini adalah nyawa yang membuat TTBP menjadi hidup dan mengandung nilai-nilai kemanusiaan.

Melihat ketidakadilan manusia yang satu terhadap manusia yang lain bukan lagi hal asing. Mereka yang saling bunuh karena ada perbedaa sudut pandang atau hal-hal lain. Dan, aku yakin tidak sedikit dari manusia sekarang yang merasa sama seperti Ye Wenjie, protagonis TTBP, yang kehilangan rasa empatinya. Dia mengerti masalah yang dihadapi manusia adalah sesuatu yang tidak bisa diselesaikan sendiri… dan dia menemukan cara untuk membalas dendam, uh, untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dengan memanggil pihak ketiga, Trisolaran.

Kontak manusia dan alien awalnya merupakan hal rahasia, meski ada sebagian golongan yang berusaha memberi informasi dengan halus dan implisit. Salah satunya, memperkenalkan ide tersebut lewat virtual reality game, The Three-Body Problem.

Lewat karakter protagonis lain, Wang Miau, kita diajak mengulik dan berpetualang dalam semesta game tersebut. Yang merupakan kisah sebuah dunia yang memiliki durasi peradaban tak menentu. Petualangan dan bagaimana Wang Miau memecahkan misteri dalam game tersebut merupakan salah satu hal menarik dalam TTBP.

Kemunculan alien ‘Trisolaran’ sendiri baru benar-benar berwujud di bagian ketiga TTBP. Akan tetapi, bangunan misteri yang bertingkat dan sambung menyambung menjaga ketegangan dan keseruannya hingga mereka muncul. Aku berkali-kali berdecak dan mengumpat ketika satu demi satu rahasia-rahasia masa lalu terbuka.

Puncak TTBP pun tak kalah menarik. Dari awal sampai ke titik sebelum klimaks, aku berpikir-pikir… kenapa Wang Miau harus seorang ahli nanomateri. Dan adegan puncak itulah jawabannya, lewat adegan action a la film blockbuster dan tetap elegan, jantung rasanya dag-dig-dug. Demi mendapatkan transkrip pembicaraan antara ETO (Earth-Trisolaris Movement) dan manusia Bumi. Meski akhirnya hal itu bisa didapatkan, namun… para Trisolaris sudah berada dalam perjalanan ke Bumi. Mereka akan datang. Mereka akan tiba di bagian kedua dari trilogi The Three-Body Problem, The Dark Forest.

Aku mungkin akan mengungkap banyak hal di sini, tapi masih lebih banyak lagi yang akan kamu temukan saat membaca bukunya.

Kesan Pertama

Bab pertama dari buku ini merupakan bagian yang paling lama kulalui. Ada empat kali kubaca sampai akhirnya bisa lepas. Bukannya buruk, tapi mungkin nggak terasa scifi sekali. Lebih seperti cerita berlatar sejarah pemberontakan. Hahaha. Tapi, adegannya sungguh cinematic dan cocok banget kalau dijadikan pembukan film-film gitu.

Latar belakang Revolusi Kebudayaan yang dijadikan event pembuka kisah ini merupakan sesuatu yang menarik. Karena bikin aku langsung berpikir… kenapa jarang sekali ada penulis di Indonesia yang mengangkat peristiwa sejarah sebagai basis cerita scifi atau fantasinya?

Oh ya, dan cover yang memikat. Warna biru dan hijau neon ternyata ciamiiik!

Pengalaman dengan buku

Dibaca cepat. Aku puas. Aku ingin lanjutannya. Banyak bagian yang bikin aku terdiam dan merenung. Banyak bagian yang bikin aku setuju kalau manusia memang bugs! Hama!

Karakter

Ye Wenjie 

Ye Wenjie adalah seorang astrophysicist. Ketika Revolusi Kebudayaan, dia melihat dengan mata kepala sendiri ayahnya yang seorang dosen disiksa beramai-ramai di depan umum. Kejadian itu membuatnya ditangkap, dijadikan bagian dari komunis. Secara psikologis, kejadian itu membuatnya nggak percaya lagi dengan sesama umat manusia yang menyakiti satu sama lain. Menurutnya dunia ini sakit!

Melalui keilmuannya, akhirnya Ye Wenjie mendapatkan posisi di Red Coast Base. Pelan-pelan dia menanamkan pengaruhnya di sana. Rasa dendamnya terhadap umat manusia masih hidup dan dia akan melakukan cara apa pun untuk menuntaskan itu.

Wang Miau

Wang Miau, seorang yang berkecimpung di dunia nanomateri. Pada suatu hari, dia mendapatkan sebuah peringatan… melalui angka hitung mundur yang muncul di penglihatannya. Ke mana pun dia mengarahkan pandangan, angka-angka itu muncul. Dia berusaha mencari tahu tentang hal itu dengan bertanya ke beberapa ilmuwan yang juga rekannya. Sembari menyelidiki gerakan bernama ETO, Wang Miau perlahan-lahan mengerti yang dia hadapi lewat semua virtual reality game, The Three-Body Problem.

Karakteristik ilmuwan melekat erat pada Wang Miau. Rasa penasaran, keingintahuan pada misteri, dan kecerdasannya membawa cerita ini bergerak maju. Tapi semua itu, cerita TTBP ini nggak akan pernah ke mana-mana.

Plot

Di beberapa novel pemenang Hugo lain yang pernah kubaca, sering sekali yang mempunyai plot berlapis-lapis, ribet, rumit, tapi tetap seru. Dibandingkan itu, TTBP termasuk memiliki plot yang sederhana. Lurus maju. Cerita di dalam ceritanya pun nggak terlalu membingungkan.

Yang membuat buku ini sulit diletakkan ketika dibaca adalah babnya yang pendek-pendek dan keahlian penulis mengakhiri tiap bab dengan pertanyaan serta misteri baru bikin sungguh gereget.

Sudut pandang

Kisah ini dituturkan melalui sudut pandang orang ketiga. Porsi terbesar (Part II) melalui karakter Wang Miau. Part I dikisahkan dari sudut pandang Ye Wenjie. Sementara itu Part III, campurang dari berbagai sudut pandang, bukan hanya kedua protagonis utama tapi juga karakter dari Trisolaran.

Tema

Kemanusiaan menjadi tema utama dari kisah ini. Bagaimana manusia memperlakukan manusia lain. Bagaimana manusia memperlakukan lingkungan di sekitarnya. Manusia menghabisi manusia lainnya semasa Revolusi Kebudayaan. Manusia menghabisi alam di sekitarnya demi bertahan hidup. Dan akhirnya, bagaimana manusia kehilangan kepercayaan kepada manusia lainnya.

Tema lainnya dalam kisah ini tentunya kontak pertama (first contact). Sebuah tema yang umum dalam dunia SFF. Dalam kisah TTBP, selain memberi sudut pandang ‘kontak pertama’ dari manusia sendiri, juga dari si alien.

Kutipan

“In China, any idea that dared to take flight would only crash back to the ground. The gravity of reality is too strong.” (kerasa familier dengan situasi di sini ya?)

Penutup

Kisah ini ditutup dengan analogi yang sangat menarik tentang Trisolaran dan manusia Bumi. Da Shi mengajak Ding Yi dan Wang Miao berhenti di tepi jalan raya, mereka menatap ladang yang sedang diserang hama. Da Shi menunjukkan bagaimana manusia selalu berusaha membunuh hama, tapi mereka tetap hidup dan kembali. Hidup dan kembali. Sama sekali bukan happy ending, tapi setidaknya… meski manusia jadi hama di rumah sendiri–mereka punya harapan untuk hidup.

Pertanyaan

GIMANA LANJUTANNYA CERITA INI??? AKU PENGIN TAHU!

Manfaat

Salah satu alasan paling kusuka dari membaca fiksi ilmiah adalah banyak sekali hal-hal baru yang aku dapat. Dari buku ini tentunya mengenai ‘three-body problem’ sendiri. ‘Three-Body Problem’ bukanlah sekadar judul atau nama game, melainkan teori yang memang ada dalam fisika.

 

Untuk #reightbookclub bulan Maret, dengan tema Adventure & Action.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s