buku / Reight Book Club

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

20160502_131912

Penerbit: PT Pustaka Utama Grafiti

Cetaka Pertama, April 2003

ISBN: 979-444-428-6

Harga: Aku dapat dikasih Danis. (terima kasih Danis sudah kasih buku sebagus ini!).

Blurb: Nggak ada blurb!

Ulasan:

Aku mengingat Umar Kayam sebagai salah satu penulis yang karyanya kubaca semasa SMP. Akan tetapi, memori itu hanya buram saja. Setelah bertahun-tahun, sewaktu menulis salah satu draf novel bersama salah satu teman, aku bertemu lagi dengan nama dan judul itu.

Judul ‘Seribu Kunang-Kunang di Manhattan’ memberi dan mengundang harapan akan sesuatu yang romantis. Namun buku ini sama sekali tidak romantis bagi mereka yang mengharapkan karya sendu dan bergelimang cinta. Kisah-kisah dalam antologi cerita pendek Umar Kayam ini menjadi romantis karena membacanya seolah merasa pulang ke rumah.

Selalu ada rasa intim pada setiap cerita. Mau di manapun kisah itu bersetting dari Kota S hingga Jakarta, dari Manhattan sampai Tokyo, dari Fluffy Donut Coffee House ke ruang makan Nyonya Surya, semua terasa dekat dan hidup. Bukan hanya setting, karakter-karakter dalam buku ini pun selalu menarik, punya sisi misterius, punya keteguhan hati. Umar Kayam berhasil menonjolkan karakter-karakter yang lincah dan mewah menjadi sosok yang sederhana dan terasa tidak asing.

Sepuluh cerita tidak disajikan melulu panjang. Enam cerita pertama cukup singkat-singkat. Dibaca tanpa terasa kok sudah selesai. Sementara empat lainnya lebih panjang, lebih eskploratif dan mendalam. Akan tetapi, panjang atau pendek, bukanlah masalah, sebab penuturan setiap cerita selalu dinamis dan renyah.

Kesan Pertama:

Siapa yang tidak jatuh cinta pada judulnya: Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Aku sendiri berharap kalau aku lahir duluan daripada beliau, aku rebut judul itu jadi milikku.

Pengalaman dengan buku:

Sekali baca tak akan cukup. Beberapa cerita kubaca hingga 4-5 kali dan aku masih sangat menikmatinya. Setiap cerita sangat ‘Umar Kayam’ sekaligus punya nyawa sendiri-sendiri. Menikmatinya seperti mencemil satu toples kue dengan berbagai varian rasa (tapi yang ini semuanya enak).

Karakter:

Banyak sekali (hampir semua!) karakter pada cerita-cerita dalam buku ini menarik. Tapi yang paling mengesankan adalah karakter-karakter perempuannya, Bawuk, Sri Sumarah, Sybil, Peggy, Jane, Madame Schlitz, Nyonya Suryo, dll., semuanya diceritakan begitu menarik.

Favoritku mungkin Bawuk dari cerita berjudul Bawuk. Perempuan dua anak ini begitu teguh, setia, dan loyal kepada suaminya, Hasan. Dia rela hidup berpindah-pindah dan susah demi menemukan suaminya yang ketika itu menjadi bagian dari PKI. Sudut pandang Bawuk terhadap hubungannya dengan PKI dan Hassan sangatlah menarik. Perempuan yang tangguh, cerdas, dan sangat menghargai keluarga—sosok yang sangat patut dikagumi.

Plot:

Setiap cerita dalam buku ini dituturkan dengan mengalir dan enak dibaca. Plotnya rapi, tidak kusut, tidak bolong-bolong, tidak rumit. Meski begitu, masih banyak ruang bagi pembaca untuk berimajinasi, untuk membayangkan bermacam-macam hal.

Lagi, yang kusuka adalah cerita Bawuk. Meski inti ceritanya hanyalah Bawuk bertemu dengan ibu dan kakak-kakaknya, sulit untuk berhenti membaca cerita ini. Diawali dari surat yang membuat Nyonya Suryo (ibu Bawuk) bertanya-tanya, hingga kisah Bawuk dan Hasan, sampai akhirnya Bawuk mengambil keputusan, apakah dia akan tinggal atau terus mencari Hasan… disampaikan dengan kuat.

Tema:

Di bagian pengantar buku ini, dijelaskan dengan singkat tema-tema yang terkandung. Sejarah, politik (PKI), nilai-nilai Jawa, budaya, dan kemanusiaan.

Kutipan: –

Penutup:

Salah satu penutup yang paling berkesan bagiku ada dalam cerita Musim Gugur Kembali di Connecticut. Merinding ketika mengingat akhirnya. Istri Tono yang harus menghadapi kenyataan pahit, tapi dia sungguh tenang! Pesan-pesan Tono kepada istrinya. Dan… ketika Tono di dalam jip, di bawa menuju kebun karet… namun yang dilihatnya adalah warna-warna musim gugur di kota yang dulu pernah dia singgahi, Connecticut.

Pertanyaan:

Aku nggak punya pertanyaan apa-apa. Ah, mungkin, aku pengin tahu nasib Bawuk, nasib anak Tono, akhir dari Peggy dan bocah Dilbert Supermarket! Ah, ternyata aku punya banyak pertanyaan!

Manfaat:

Aku senang sekali menemukan buku ini. Selalu menyegarkanku.

 

Dibaca untuk #ReightBookClub untuk bulan April dengan tema Antologi. Aku harap buku ini akan diterbitkan ulang karena aku pasti beli lagiiiii!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s