film / Resensi

The Wolf of Wall Street

TheWolfofWallStreet_iTunesPre-sale_1400x2100

Ini adalah cerita tentang uang.

Di tengah-tengah nonton ini tadi gue terlibat obrolan dengan temen gue, Nyit. Kami cerita tentang ‘bahagia’. Untuk sebagian orang bahagia itu adalah ketika punya uang dan bisa membeli yang diinginkan. Tetapi, ketika uang udah cukup, apa lagi? Mereka punya tingkat bahagia yang sama dengan orang yang punya penghasilan biasa-biasa aja. Justru, orang-orang yang udah lebih banyak uangnya lebih khawatir gimana caranya mereka nyelamatin uang mereka. Dan mereka bisa bahagia dengan cara lain, ketika mereka nggak mikirin uang.

Seperti sejak awal di film ini, ketika Jordan Belfort (Leonardo DiCaprio) masuk ke Wall Street dan ketemu bosnya, Mark Hanna (Matthew McConaughey). Mr. Hanna untuk mengingatkan dia tentang seks dan kokain. Karena tuntutan perkerjaan yang berat sebagai broker, maka dua hal tersebut bisa jadi stimulus sekaligus pelarian agar tetap waras.

Jadi, jangan heran kalau tiga jam ke depan banyak banget adegan telanjang, seks, dan ngisep kokain. Dan banyak adegan gila lainnya.

Cerita The Wolf of Wall Street ini memang mengisahkan tentang Jordan Belfort berdasarkan pengalamannya dan buku yang ditulisnya. Ya, Jordan Belfort ini memang karakter nyata, ya semacam broker Wall Street gitu juga. Gue juga nggak tahu sampai nonton film ini.

Setelah enam bulan bekerja bersama McConaughey, eh maksudnya Mark Hanna, perusahaan tempat Jordan bekerja terkena imbas Black Monday. Jordan harus kehilangan pekerjaan dan terpaksa bekerja di sebuah perusahaan kecil. Jauh lebih kecil daripada Wall Street yang megah. Akan tetapi, dia nggak berhenti di situ. Bersama Donnie (Jonah Hill), teman barunya, dia mendirikan Stratton Oakmont dan merekrut beberapa kenalannya. Kenalan-kenalannya yang nggak pada punya dasar pengetahuan tentang saham diajarinya cara-cara menipu gitu deh–baca tentang pump and dumb di sini. Semacam ngejual saham dengan yang harganya murah dengan harga tinggi.

Donnie (Jonah Hill) dan Jordan (Leonardo DiCaprio)

Donnie (Jonah Hill) dan Jordan (Leonardo DiCaprio)

Dan ya, Stratton Oakmont pun jadi gede. Sampai Forbes menjuluki Jordan sebagai Wolf of Wall Street. Dari sini mulai mengerikan. Karena kecanduan dengan gaya hidup yang tadi di atas itu, kantornya benar-benar menjijikkan deh. Sampai akhirnya kelakuan si Jordan ini kecium FBI dan dia mulai diselidiki. Nah, setengah durasinya adalah cerita si Jordan menyelamatkan uangnya, dibawa dari US ke Swiss.

Cerita ini berakhir dengan Jordan yang akhirnya tertangkap. Dia seharusnya ngundurin diri dari Stratton Oakmont, tapi malah bertahan karena itu memang lahan mainnya. Dan akhirnya dia dipenjara, kemudian jadi motivator. Ha!

The Wolf of Wall Street ini adalah cerita yang solid. Karya terbaru Martin Scorsese dan diproduseri oleh Leonardo ini kompleks. Paling suka dengan sinematografinya. Naratifnya sendiri lumayan sih, cukup bikin cerita jadi lucu. Selain itu yang bikin ceritanya seru adalah karakter-karakternya.

Aku nggak tahu apa yang mau aku omongin dari film ini. Bagus, iya. Kuat cerita dan karakter, iya. Tapi, film ini kekurangan ‘hati’ kalau dibanding nominator film terbaik Oscar lainnya. Sesuatu yang menyentuh gitu. Yah, memang bukan itu sih tujuan film ini. Cuma gue nganggep film ini nggak manusiawi–surreal gitu sih karena gue memang awam tentang dunia yang diusung dalam cerita.

Setengah jam pertama, ketika McConaughey udah keluar dari layar, gue udah mulai bosen. Masalah gue sebenarnya sama Leonardo DiCaprio. Entah kenapa di mata gue Leo yang kali ini nggak jauh-jauh beda dengan yang udah-udah gue tonton, paling nempel sama karakter Gatsby di The Great Gatsby. Kayaknya akhir-akhir ini, Leo memang selalu bisa tampil di film yang bagus dan berpotensi Oscar, tapi kayaknya nyaris karakternya selalu cowok berkuasa, berharta, dan DOMINAN. Duh. Gue justru lebih suka ngeliat Jordan (Leo) di film ini, di awal dan akhir film–ketika dia bukan siapa-siapa, ketika dia ngeliat penuh kekaguman karakter yang dimainkan McConaughey atau sewaktu dia harus patuh terhadap hukum.

Sampai satu jam setelahnya gue masih nggak bisa terikat sama ceritanya. Isinya cuma pesta-pesta dan kegilaan-kegilaan yang harus disaksikan sendiri. Baru sekitar satu setengah jam sisanya, gue bisa duduk manis dan menikmati ceritanya.

Ada beberapa adegan favorit gue, yang pertama jelas waktu Jordan dan Donnie mabok gara-gara obat yang udah lama banget. Itu adegan dodol banget dan kocak abis. Udah pasti dalam hati bakal maki-maki, minimal fuck, fuck, fuck, karena tiap dua menit sekali kayaknya kata itu keluar dari dari karakter-karakternya. Hahaha. Selain itu, gue suka waktu Jordan berantem dengan istri pertamanya di depan apartemen. Adegannya sedih sih. Juga ketika Jordan dan istri keduanya berantem di rumah mereka. Jordan ngambil anaknya untuk lari. Namun, karena terlalu tergesa-gesa malah nggak jadi. Di adegan itu, Jordan kelihatan manusiawi banget. Dia cuma pria biasa yang baru aja kehilangan kebebasan, kehilangan uang, dan sekarang istrinya mau ninggalin dia.

Uang bisa datang dan hilang dalam sekedipan mata aja.

Jordan dan Mark Hanna (Matthew McConaughey)

Jordan dan Mark Hanna (Matthew McConaughey)

Akan tetapi, adegan paling favorit gue adalah ketika Jordan muda diajak makan siang oleh Mark Hanna. Itu kayaknya obrolan paling nyambung ke gue di sepanjang film. Ngeliat gimana briliannya McConaughey berakting bareng Leo dan dia jadi pencuri perhatian gitu. Apalagi ketika dia mulai ngajarin Leo senandung gitu. Wow, keren. Meski nggak keluar lagi di belakang, tetapi karakter Mark Hanna ini memang role model-nya si Jordan banget. McConaughey di sini masih kurus banget, kayaknya baru aja selesai syuting Dallas Buyers Club.

Kayaknya film ini memang bukan konsumsi semua orang. Selain muatannya yang agak-agak berat, butuh fokus buat ngikutin benar-benar detailnya. Yang bagus memang teknik penceritaannya baik dari dialog atau pengambilan adegan-adegannya, bagus kalau memang mau belajar jadi filmmaker. Dan durasi film tiga jam itu agak-agak terlalu lama sih, meski dikasih akting Leo yang memang dari sananya udah memikat. Namun, apa lagi yang mau dikata, film ini kan salah satu nominasi Best Picture-nya Oscar 2014; Leo satu dari nominasi aktor terbaik; Hill jadi salah satu nominasi aktor pendukung terbaik, serta dua nominasi lain yaitu adaptasi terbaik dan sutradara terbaik.

Ini humming Hanna dan Jordan yang legendaris di awal film.

Catatan: gue baru tahu adegan ini terinspirasi dari ritual pribadi McConaughey. Jadi, sebelum mulai syuting dia suka melakukan itu sebagai bentuk meditasi gitu. Nah nggak sengaja Leo ngeliat dan kemudian dimasukin gitu jadi heart of the story. Cool!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s