film

The Machine

the machine 1

Tema tentang kesadaran, tentang konflik A.I. dan manusia, tentang A.I. yang bertanya-tanya mengenai dirinya sendiri memang selalu menarik. Ini sesuatu yang nggak akan pernah berhenti diceritakan sampai nanti manusia sendiri menapak ke masa ini. Sekarang sudah mulai… lebih lanjutnya mungkin dalam beberapa puluh tahun sampai seratus tahun lagi. Atau mungkin lebih cepat daripada itu.

The Machine, film indie bergenre fiksi ilmiah ini mengangkat tema tersebut. Berlatar di masa depan, seorang ilmuwan, ahli komputer kuantum terpaksa mengerjakan program A.I. untuk pemerintah demi bisa meneruskan riset implan otak bagi anaknya yang sakit.

Konfliknya dimulai ketika Vincent merekrut Ava, seorang gadis muda yang juga berhasil membangun A.I. yang yaaa bisa lulus tes turing dari Vincent. Mereka berdua mengembangkan The Machine untuk institusi keamanannya negara Inggris. Akan tetapi, adanya gejolak di antara obyek-obyek penelitian Vincent, bikin akhirnya Ava terlibat masalah. Dan akhirnya, Vincent pun bikin sesosok robot dengan otak A.I. yang diciptakan Ava, mereka memanggilnya, “The Machine”.

Jadi, di masa itu mereka udah bisa bikin bagian-bagian tubuh artifisial, nah The Machine ini pakai tubuh utuh. Tapi nggak tahu kenapa pilih badan perempuan. Dengan tubuhnya yang baru, The Machine punya kemampuan di atas manusia biasa. Tahan ditembak, gampang matiin orang, dan lain-lain. Tentunya, dia juga seperti anak yang baru lahir, sulit mengontrol ekspresi dan emosi, masih abu-abu untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Ya, itu masalah standar, umum, dalam cerita A.I, tapi yang bikin aku agak mikir, rasanya The Machine itu sudah gede bersama Ava, tapi kelihatan nggak berkembang sama sekali. Bukan tipe A.I. yang berkembang sendiri (meski ada dialog yang bilang gitu), lebih ke dikasih input dan dia olah.

the machine 2

Aktor yang memerankan Ava/The Machine dan Vincent sebenernya bagus dan bikin ceritanya hidup banget. Hanya saja, hubungan mereka berkembang jadi aneh dan itu bikin aku agak risi. Aku ngerti kalau The Machine penasaran, tetapi situasi yang digambarkan, serasa dijuruskan kepada ‘lust’ bukan ‘wonder’.

Untuk karakter itu nggak seberapa bermasalah sih buatku, tetapi yang paling bikin aku gemes adalah… karakternya yang nggak kelihatan cerdas, nggak bikin gereget sama sekali, dan keputusannya terlalu mudah ditebak. Bahkan, si The Machine juga nggak ada bikin terkejut. Ini mungkin lebih condong ke skenarionya sih ya, padahal alurnya udah pas, dan konfliknya bisa banget jadi menyentuh kalau dikembangin lagi dengan porsi pas.

The Machine ini nggak terlepas dari pengaruh Blade Runner, dari cinematografi sampai ke soundtrack. Tapi, tetapi film ini punya kekhasan tersendiri, terlebih dengan dana terbatas, aku bilang film ini ngasih efek yang terbaik yang bisa dikasih. Komputer dan perangkat layar sentuhnya kerasa nyata, termasuk hologram komputer kuantum, dan tubuh The Machine, kerasa real dan bagus. Yang mengganggu cuma, kurasa sutradaranya, Caradog W. James adalah penggemar berat J.J. Abrams, jadi banyaaaak betul lens flare-nya. Hihi.

Teknologi lain yang ada di film ini yaitu mind-uploading. Nggak terlalu jelas apakah itu benar-benar mind-uploading, atau hanya memori yang udah lama dan disimpan aja. Menarik sih, meski nggak kelihatan sesuperior Johnny Depp di Transcendence.

Film ini nggak ngajak berharap atau takut, lebih ke merenung kali ya, kalau apa yang kita perbuat dengan teknologi selalu ada konsekuensi. Di akhir cerita ini pun, menyisakan abu-abu, nggak ada benar, nggak ada salah, karena yang paling benar adalah alasan untuk bertahan hidup, bahkan bagi makhluk non-biologis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s