Doctor Who / Resensi / Serial

The Time of The Doctor

“I will not forget one line of this, not one day, I swear. I will always remember when The Doctor was me.”

Akhirnya! Ya, akhirnya episode ini tiba juga. Episode yang gue tunggu-tunggu banget sejak 50th Anniversary special. Yang gue antisipasi dengan setumpuk tisu dan perasaan yang coba dilapang-lapangkan. Episode ketika 11th pun beregenerasi. Episode terakhir dari… Matt Smith.

Sejak selesai episode 50th special, penonton langsung dicekoki dengan teaser singkat dari episode ini… satu nama dan satu frasa yang bikin gue nebak-nebak selama sebulan: ‘Trenzalore’ dan ‘Silence will fall’.

Penting: kalau nggak ngikutin episodenya Doctor 11th (Matt Smith) secara keseluruhan, kayaknya episode ini bukan untukmu. #halah

Oke. Spoiler ahead.

Seluruh cerita The Time of The Doctor memang terjadi di sebuah kota kecil bernama ‘Christmas’.

Dimulai dari munculnya sebuah sinyal terus menerus yang nggak dimengerti seluruh makhluk di alam semesta dari sebuah planet. Untungnya, Papal Mainframe yang dipimpin Tasha Lem sampai lebih dulu dan menyelamatkan planet tersebut. Di luar planet tersebut ada bermacam-macam penghuni semesta, dari Dalek, Cyberman, Sontaran, termasuk The Doctor juga.

Karena The Doctor dan Tasha temenan (gue penasaran abis sama hubungan mereka), Tasha ngasih Doctor kesempatan untuk ke planet itu. Dan… sampailah Doctor dan Clara di Christmas. Di situ, Doctor menemukan sumber sinyal yaitu… celah di dinding–crack in the wall (yang pertama kali muncul di episode pertama Matt Smith, Eleventh Hour).

Dari celah itu… keluarlah pertanyaan terbesar di alam semesta: ‘Doctor Who?’

Tasha Lem yang denger pertanyaan itu langsung menghubungi Doctor, Doctor pun nanya ke Tasha sebenarnya itu planet apa. Tasha jawab… Trenzalore.

Doctor pun memilih untuk tinggal di situ dan nyuruh Clara pulang. Selama ratusan tahun dia tetep tinggal di situ untuk memenuhi ramalan tentang Trenzalore. Terakhir, ketika di ujung waktunya dan Dalek menyerang, Clara minta tolong ke balik celah… yang ternyata adalah Gallifrey.

Doctor pun ditolong dan dia beregenerasi.

1463128_676176939069394_509165845_n

Episode ini ditulis oleh showrunner Doctor Who sendiri, Steven Moffat. Kali pertama gue nonton… banyak ‘engg…’ dalam kepala gue. Semua terjadi begitu cepat, gue nggak nangkep sebenarnya plotnya apa karena banyak ‘kameo’ di sana-sini. Ya, akhirnya gue cuma bisa bilang episode ini bagus, tapi kayak kolase cerita yang direkat jadi satu.

Lalu, gue pun nonton untuk kali kedua. Nggak sesedih yang gue pikirkan sebelum episodenya tayang, meski tetep nangis beberapa kali.

Sebenernya cerita episode ini sederhana betul, cuma gimana Doctor berusaha memenuhi ramalan atas dirinya–Trenzalore yang jadi tempatnya bersemayam (cek episode The Name of The Doctor, S7E13).

Cerita ini nyambung dengan episode akhir sisen 6, The Wedding of The River Song, saat si Dorium mengucapkan ramalan, juga tentu saja menjawab pertanyaan siapa yang membuat celah di dinding (Eleventh Hour, S5E1) dan meledakkan TARDIS (The Big Bang part II, S5E13).

Nggak lupa, Moffat memasukkan beberapa makluk populer, bahkan Weeping Angels yang nggak jelas gunanya di episode ini. Ada Cyberman kayu, tetapi juga gitu aja. Terus Dalek dan Sontaran. Semua mau maksa Doctor untuk jawab pertanyaan siapa namanya. Tetapi, tentu aja Doctor menolak.

Nah, karena semua hal itu dimasukin-diramu jadi satu… itu yang bikin gue ngerasa ceritanya dangkal. Dan Clara, gue lebih suka peran dia di The Day of The Doctor dibanding di sini yang… gaje. Iya, sih dia yang minta tolong ke celah… Justru, di episode ini gue lebih suka dengan dua companion sementara si Doctor, Handless dan Barnable. Handless itu kepala cybermen yang dijadiin temen dia–mirip kayak Wilson si bola voli dan Tom Hanks di Cast Away. Sementara Barnable adalah anak kecil di Christmas (tapi, di bagian akhir, ke mana si Barnable?).

Tentang Silence juga disebut. Mereka tuh semacam pendeta–confession priest di Papal Mainframe. Tapi, tetep gue nggak ngerti-ngerti banget maksudnya ‘Silence will fall’ itu apa. Apakah itu merujuk ke Silence atau sikap diam Doctor? Kayaknya sih sikap diam Doctor karena kalau sampai Doctor nyebut namanya, maka perang–The New Time War–bakal terjadi.

Selain Silence, juga tentang Kovarian. Nah, inget kan, Madam Kovarian yang nyulik Melody Pond (River Song) di episode A Good Man Goes to War, S6E7. Jadi, mereka ini yang sebenarnya meledakkan TARDIS di episode The Big Bang pt II dan masuk ke timeline Doctor demi mencegah perang terjadi dengan bikin pembunuh alias River Song.

Tapi, bener deh siapa sebenarnya Tasha Lem dan apa hubungannya dengan Doctor bener-bener bikin gue penasaran. Kalau River nggak akan muncul di seri 8 dan seterusnya–gue rasa, Tasha ini yang bakal gantiin. Nah, yang gue bingung ada ketika Tasha berusaha ngelawan Dalek dalam dirinya–si Doctor minta Tasha bertahan karena selama ini untuk melawan sisi psikopat yang juga ada di dirinya. Psikopat yang mereka obrolin sebelumnya tuh ya, River Song. Apa hubungan Tasha dan River? Dan kenapa Tasha bisa pakai TARDIS?! Gue suka banget River yang diperanin Alex Kingston… sayang aja di sini nggak muncul.

Ya nggak ketinggalan dibahas juga tentang regenerasi. Doctor sendiri yang ngejelasin dia udah sampai limit, termasuk 10th Doctor yang beregenerasi 2x dan The ‘grumpy’ War Doctor. Maka, ketika si Doctor beregenerasi jadi Peter Capaldi… dia lupa gimana caranya nerbangin TARDIS.

Peter Capaldi (jadi dia 14th atau 12th?)–hmm, kita anggap 12th aja ya. Tiba-tiba muncul dan kata yang pertama kali diucapkannya adalah ‘Kidney!’. Banyak yang berharap karakter Doctor yang baru ini bakal ‘dark’, tetapi melihat penampilan sekilasnya kemarin rasanya nggak gitu. Menariknya, untuk seri 8, ya… gimana Doctor bisa lupa apa yang udah nemplok banget di kepalanya selama ini!

Di bagian akhir, sebelum 11th menjadi 12, ada tamu yang bikin gue nangis–Amelia Pond. Dari sejak Amelia kecil lari-lari di TARDIS (errghh gue nggak suka mereka ganti pemeran Pond kecil). Sampai kemudian muncul Amelia yang udah dewasa. Satu kata yang diucapkan Amy ke Doctor. Satu kata yang bikin nangis banget.

Kerasa kan gimana padetnya cerita ini. Itu yang bikin penonton yang sekilas ngeliat nggak akan ngerti. Sebenarnya bagus, kalau ceritanya diperbaiki dan didalemin… cuma karena semua itu pengin dimasukin dan dipack jadi satu sebagai salam perpisahan, semuanya kayak montase. Montase dengan benang merah. Sebuah cerita yang buat gue terasa nggak selesai.

Meski ceritanya padat, banyak hal-hal kecil yang cukup menarik perhatian sih, kayak Doctor yang telanjang di TARDIS (ewwwww) dan kepalanya yang gundul! haha… Sayangnya, adegan makan bareng keluarga Clara nggak dilanjutin–padahal gue pengin lihat kalau Clara bawa pacar yang tampangnya beda ke depan keluarganya. Bakal lucu deh!

Rasanya tetep sedih sih akhirnya 11th pergi. Dia Doctor favorit gue (ya gue baru nonton 10th dan 11th). Dia bikin gue sedih, senang, terhibur, belajar tentang time-travel. Sedih aja ngeliat dia akhirnya bener-bener pergi… Gue jadi inget kata-kata perpisahan dari 1st Doctor ke Susan.

“One day, I shall come back. Yes, I shall come back. Until then, there must be no regrets, no tears, no anxieties. Just go forward in all your beliefs and prove to me that I am not mistaken in mine. “

Dan kemudian dia pergi.

Perpisahan nggak pernah mudah dijalani, kan? Tetapi, semua harus berakhir. Kadang, itu terjadi lebih cepat daripada yang kamu pikirkan.

Raggedy man, goodnight. 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s