film / Resensi

Metropolis

Metropolis-movie-poster

Hari keempat scifi week! Ini kali pertama gue nonton film hitam putih dan bisu. Pada kesempatan pertama ini jatuh kepada satu film fiksi ilmiah yang sangat legendaris, berjudul Metropolis.

Film ini dirilis tahun 1927 dan disutradarai oleh Fritz Lang. Sedangkan penulis dari film ini adalah istrinya sendiri, Thea von Harbou. Edisi lengkap film ini sempat hilang sampai akhirnya ditemukan kembali dan direstorasi. Bahkan versi restorasi yang gue tonton, masih kurang sekitar 30 menit (menurut artikel yang gue baca sih), jadi total durasinya hanya 150 menit.

Kisahnya, tentang sebuah kota di masa depan bernama Metropolis yang dipimpin oleh pemimpin yang tidak berbudi baik, yaitu Fredersen. Nah, Fredersen ini punya anak namanya Freder. Pada suatu hari, Freder ketemu seorang cewek, Maria. Sayangnya Freder dan Maria ini dari dunia yang berbeda, maksudnya Freder dari atas tanah, tempat para hal-hal yang bagus ada, sementara Maria dari catacombs, tempat para pekerja kasar berada.

Freder pun turun ke bawah dan melihat kenyataan yang tidak semestinya. Ia marah kepada sayang ayah, tetapi nggak ditanggapi. Akhirnya, ia turun lagi ke bawah dan bertukar peran dengan salah seorang pekerja. Karena itu dia bisa bertemu lagi dengan Maria. Dan ramalan Maria tentang seorang sosok penyambung pun hampir menjadi kenyataan.

Akan tetapi, nggak semudah itu terjadi. Fredersen yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana pun menemui Rotwang, seorang ilmuwan yang berhasil membangun sebuah robot. Robot itu dia buar berdasarkan perempuan yang dicintainya, Hel, yang malah memilih menikah dengan Fredersen.

Ceritanya masih panjang sih. Konfliknya memang berputar antara Fredersen, Freder, Maria, dan Rotwang. Namun, semua adalah karakter-karakter yang menarik. Mungkin karena ini film bisu, ekspresi dan akting aktor-aktornya benar-benar mantap. Ekspresif dan teatrikal banget.

Yang paling bikin gue terpesona sih setnya. Keren banget. Untuk tahun segitu, itu set yang rasanya amat mewah, megah, dan skala besar. Gue aja sampai ternganga-nganga di bagian depan. Jaman segitu belum ada CGI! Mereka bangun mesin, mereka bangun set kota, ruangan, menara Babel, dan latarnya pun yang meski dilukis itu kelihatan bagus banget.

Ditambah dengan stunt yang banyak untuk para pekerjanya, anak-anak kecil dan itu keren banget. Ini film yang skalanya besar. Kolosal kalau boleh kubilang. Dan ngeliat itu semua benar-benar bikin takjub. Gue yang nonton sekarang aja takjub, apalagi mereka yang nonton jaman dulu ya.

Karena ini pengalaman pertama nonton film hitam putih dan bisu, gue akui agak kesulitan untuk fokus. Karena bisu itu kan nggak bisa hilang fokus dari layar, meski tempo adegannya nggak cepat, ketika meleng dari layar dikit berasa kehilangan sesuatu. Sementara, film-film jaman sekarang, nggak lihat ke layar, masih bisa nangkep ekspresi mereka dari suara. Bisu di sini artinya nggak ada dialog ya, tapi musik latar tetep ada.

Ini film yang harus ditonton kalau kamu memang cinta film genre scifi atau benar-benar menikmati serta mempelajari film-film. Gue pengin ngomong banyak sih sebenernya, tapi dengan keterbatasan pengetahuan tentang film rasanya gue cuma bisa mengungkapkan kekaguman aja.

Kalau kamu benar-benar penasaran dan ingin review lengkap serta mendalam, coba baca review Metropolis dari Roger Ebert.

metropolis 2 metropolis

Kalau penasaran pengin nyoba nonton. Silakan cek di bawah ini.😀

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s