Resensi / Serial

Pilot episode: The Leftovers, Extant, & The Strain

Musim panas datang dan serial-serial langganan mulai hiatus. Namun, muncul juga serial-serial baru yang mungkinakan mencuri perhatian. Ada tiga serial yang menarik perhatianku dan dirilis dalam waktu berdekatan, yaitu The Leftovers, Extant, dan The Strain, karena ketiganya digarap nama yang familier dan mengandung tema fiksi ilmiah dan fantasi. Jadi, aku review episode pilot dari ketika show tersebut.

The Leftovers 1.1 – Pilot

the leftovers1

Aku nggak tahu apa yang harus dibilang kurang dari episode pertama ini. Akting yang bagus, cerita yang kuat, penyutradaraan dan editing yang bikin aku kagum banget, dan ya… musik latar yang pas banget, enak banget. Mungkin satu, kisah dan gaya bercerita dari The Leftovers ini nggak diperuntukkan ke semua orang.

The Leftovers mengangkat tema ‘kehilangan’. Sesuatu yang setiap orang lalu dalam hidup. Akan tetapi, di sini, 2% dari populasi manusia mendadak lenyap. Tanpa alasan. Tanpa peringatan. Just vanish… into thin air. Sains nggak bisa menjelaskan. Pemuka agama bilang itu adalah kehendak tuhan. Bukan mereka yang hilang yang menjadi subyek, tetapi orang-orang yang ditinggalkan. Bagaimana setelah tiga tahun trauma dan kesedihan itu masih melekat. Pertanyaan besar ke mana orang-orang itu pergi masih belum terjawab.

Kisahnya terjadi di sebuah kota kecil yang orang hilangnya agak banyak. Alurnya ngikutin beberapa karakter utama, keluarganya si polisi, termasuk anak-anaknya, Jill dan Tommy, serta istrinya, Laurie, dan seorang cewek namanya Meg. Si polisi dan Jill ada di satu storyline, sementara lainnya berada di storyline yang beda, meski masih terjalin jadi satu. Jadi, dapet banget gambaran kondisi orang-orang dan situasi kota itu dari berbagai sudut pandang. Laurie tergabung dengan the remnants, mereka yang berhenti bicara dan menghabiskan waktu dengan merokok. Kelompok ini menarik, tetapi juga mengerikan. Sementara Jill mewakili kehidupan anak-anak muda di kota tersebut. Dan Jill ada di luar kota, bekerja pada seorang peramal gitu.

Adegan pembukanya… luar biasa. Seorang ibu yang sedang cuci di laundromat, bawa anak bayinya yang nangis terus. Dan ketika balik ke mobil… peristiwa itu terjadi. Anaknya hilang begitu saja. Adegan ini bikin aku terpana dan tertegun. Apalagi dengan musik tema yang begitu sedih.

Kisah ini drama banget dan fokus ke karakter. Episode pertama ini jadi perkenalan karakter banget. Untungnya, editingnya jago sekali. Adegan per adegan kerasa bagus banget. Aku suka banget. Aku sendiri sempat agak bosen di 20 menit pertama. Akan tetapi, di 20 menit terakhir. Adegan peringatan di lapangan itu… bener-bener powerful dan kamu tahu serial ini dikerjakan dengan serius dan secara teknis memang cakep! Aku tahu aku bakal nonton episode selanjutnya setelah adegan itu.

Untuk ke depan, rasanya serial ini nggak akan membahas ke mana orang-orang itu hilang. Melainkan fokus pada misteri-misteri yang bermunculan di episode pilot ini, kayak anjing-anjing yang bermunculan. Ya, di episode pilot ini ada beberapa adegan nembak anjing sih. Dan banyak misteri lainnya yang tersembunyi di setiap storyline. Cara bercerita dan misteri pada setiap karakter, bikin serial ini bakal kaya dan punya banyak bahan cerita.

Ketika nonton aku sempat mikir tentang serial ini yang temanya terlalu membesar-besarkan kehilangan. Kehilangan itu mutlak. Setiap hari ada orang yang mati karena sakit, bencana, perang, atau cuma pergi karena berpisah. Dan kehilangan di sini, hilang yang benar-benar hilang, nggak ada yang terindikasi diculik dan disembunyikan. Juga, banyak yang ngalamin hal itu. Pikiran itu sempat bikin malas mau nonton. Tapi, tadi adegan di 20 menit terakhir, bikin aku berhenti mikirin itu. Kehilangan mutlak, bagaimana menyingkapinya itu pilihan, dan kesedihan… itu tak terhindarkan.

The Leftovers diangkat dari novel berjudul sama karya Tom Perrota yang juga jadi executive producer dan writer. Show ini juga nggak akan ada tanpa campur tangan Damon Lindelof (Lost) yang juga jadi EP dan writer. Beberapa berkomentar episode awal ini belum menyamai dahsyatnya Lost. Kalau suka serial based-on character(s) dan penuh misteri, plus musik tema yang keren, boleh banget dicoba The Leftovers ini. Hoho!

the leftovers2

Extant 1.1 – Re-entry

extant1

Yang bikin aku tertarik sama serial ini adalah karena nama Steven Spielberg sebagai EP dan temanya yang fiksi ilmiah. Dua hal tersebut ditunjang juga dengan ikutnya aktris pemenang Academy Awards, Hale Berry. Jadi, nggak ada salahnya aku cobain nonton pilotnya.

Lagi-lagi, serial ini menjual misteri. Berangkat dengan premis ‘seorang astronaut wanita yang melakukan misi solo di luar angkasa dan kembali ke Bumi dalam kondisi hamil’. Kedengaran kayak Prometheus ya? Hehehe. Akan tetapi, di pilot ini, jelas kelihatan kalau serial ini punya subkonflik yang juga cukup menarik.

Molly kembali kepada suami, John, dan anaknya setelah tiga belas bulan melakukan misi solo. Anak mereka Ethan, adalah robot atau di situ disebut humanics. John memang seorang ilmuwan A.I. dan ketika dia menyelesaikan Ethan, dibawalah ke rumah, mereka berdua nganggap Ethan sebagai anak. Proyek Humanichs ini berusaha si suaminya tawarkan ke YasumotoIndustries, tapi ditolak karena John ini nggak punya rencana bagaimana melakukan terminasi kepada Humanichs. Namun, si pemilik Yasumoto ini akhirnya menawarkan pendanaan dari kantong pribadinya. Jadinya, proyek Humanichs ini dilanjutkan.

Di episode awal ini memang ceritanya fokus ke membangun konflik dan misteri, terutama di pilot ini justru fokus ke si Ethan. Banyak hal yang bikin penasaran. Kayak gimana bisa ada Marcus, ex-Molly, di stasiun luar angkasa. Astronaut yang kabarnya dianggap mati dan ternyata belum. Apa rencana sebenarnya dari Yasumoto ke Molly dan keluarganya.

Halle Berry memberikan penampilan yang oke banget di episode pilot ini. Akan tetapi, yang mencuri perhatianku justru Pierce Gagnon, anak lelaki yang memerankan Ethan. Bisa banget! Salah satu adegan favoritku adalah ketika si anak ini berusaha ngelatih ekspresinya,itu bisaan banget! Adegan-adegan lainnya juga keren, mana muka si Ethan ini kan datar dan rada creepy gitu, cocoklah jadi Humanichs.

Tapi, yang jadi favoritku dari semuanya adalah ngeliat setting masa depan yang ada di sini. Memang nggak ada yang baru sih, semua udah pernah dilihat. Dari panel-panel layar sentuh, foto yang bisa bergerak (kayak di Harry Potter!), presentasi lewat hologram, dan… regenerasi. Serius, ini yang paling aku tunggu, teknologi regenerasi yang digunakan pada Mr. Yamamoto. Meski di episode ini baru dikasih sedikit aja, aku harap di episode-episode mendatang bakal ngelihat lagi dan dapet penjelasan yang detail!

Dan, yes, aku akan nonton episode selanjutnya. Aku nggak terlalu tertarik sama misterinya sih. Aku lebih senang ngelihat latar masa depannya. Hoho!

extant2

The Strain 1.1 – Night Zero

Serial ini adalah adaptasi dari novel yang ditulis oleh Guillermo del Toro beberapa tahun lalu. Sempat terbit juga dalam bentuk komik yang juga memiliki judul serupa. Episode pertama ini juga ditulis dan disutradarai oleh Guillermo del Toro. Dan aku, jelas nonton karena beliau.

The Strain mengombinasikan antara fiksi ilmiah, supernatural, dan horor. Ceritanya berawal dari sebuah pesawat yang mendarat di JFK dengan hampir semua penumpangnya meninggal. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, bahan kimia, gas, atau apapun. Semua meninggal dengan tenang, tanpa diketahui penyebabnya. Empat orang yang selamat pun juga tidak diketahui kenapa selamat.

Erp (Corey Stoll) staf CDC ditugaskan untuk menyelidiki hal tersebut. Dia dan tim menemukan sebuah kotak kabinet atau peti mati yang keren abis, sekaligus creepy. Seorang tua pemilik pawn shop, yang misterius dan punya ‘jantung’ hidup mendatangi mereka, mengatakan kalau dia tahu tentang apa yang terjadi. Tetapi, si Erp ini nggak mau dengar. Padahal, instruksi si orang tua yang diperankan David Bradley ini jelas yaitu untuk menghancurkan kepala dan membakar semua tubuh korban. Serta menghancurkan peti mati keren banget tadi.

Ternyata peti tersebut tuh pesanan seorang kaya yang tua dan sekarat gitu. Entahlah maksudnya untuk apa. Karena ya… isinya vampir. Tapi jangan bayangin vampir yang cakep, cemerlang, bling-bling. Ini beda banget. Ngeriin malah. Di episode ini baru muncul satu adegan sih, cukup menimbulkan perasaan teror… apalagi pas ngeliat dia ngehancurin kepala korbannya dengan satu tangan. Pok! Pok! Pok!

Dari episode pertama ini, kerasa kalau serial ini bakal cukup menghibur. Nggak terlalu berat dan depresif. Nggak terlalu nyeremin juga sih. Model-model horornya Guillermo del Toro deh.

Karakternya lumayan banyak sih di sini. Entah kenapa nggak ada karakter yang kusuka. Mungkin karena di episode pertama ini belum terlalu dalam karakternya, lebih fokus ke event dan ngelihatin pihak-pihak yang terlibat. Rasanya sih, ke depannya juga nggak akan ada pengembangan karakter yang berarti banget. Lagi-lagi, karena fokus ke event. Memang beberapa karakter dikasih latar belakang, dikasih konflik, tetapi… nggak kerasa ngena gitu. Haha.

Karena episode pertama ini yang nyutradarin GDT juga, kerasa banget beberapa adegan itu ‘film’ banget. Nggak kayak nonton serial televisi. Yang kusukan adalah lighting-nya. Karena banyak adegannya pada malam hari dan di tempat gelap, itu bisa banget ngebangun suasana horor.

Pokoknya sih, kalau suka horor, vampir yang nggak biasa, dan fiksi ilmiah, bisa banget ini The Strain jadi tontontan sambil nunggu serial-serial musim gugur main lagi! Hoho! Dan oh ya, ada Sam Gamgee (Sean Astin) di sini!

the strain 3 thestrain1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s