buku / Resensi

Lalita

“Setiap kita punya sisi gelap, setiap kita punya bayang-bayang.”

(Lalita, hlm. 206)

20130712_074554_Antonio_Smoke

Lalita adalah buku kedua dari Seri Bilangan Fu karya Ayu Utami setelah Manjali dan Cakrabirawa. Buku ini bisa dibaca terpisah dari Manjali dan Cakrabirawa, tapi bagusnya sih baca dulu. Tentunya biar lebih kenal dengan karakter-karakternya, Parang Jati, Marja, dan Sandi Yuda. Seri kedua Bilangan Fu ini masih mengangkat tema besar yang sama, yaitu kebudayaan. Namun, di Lalita, juga kental mengenai spiritualisme-nya. Ada beberapa kata kunci untuk buku ini: buku indigo, axis mundi, Buddha, dan Borobudur. Sementara sub temanya, aku bisa menemukan mengenai fotografi, psikoanalisa, vampir atau drakula, sinkronisitas, dan kemanusiaan.

Kisahnya masih dipegang oleh tiga sekawan, Parang Jati, Marja, dan Sandi Yuda. Yuda bertemu dengan Lalita, seorang kurator seni. Lalita adalah seorang perempuan canggih yang selalu tampil dengan riasan tebal. Bukan tanpa alasan, Lalita selalu menutupi dirinya yang sebenarnya. Pada suatu kali, ketika Yuda berkunjung ke rumah Lalita, ia menemukan buku indigo yang menyatakan bahwa Lalita adalah keturunan drakula.

Parang Jati mengenal Lalita ketika diajak Yuda untuk datang ke ceramah mengenai Borobudur. Hadir juga di ceramah itu, Jisheng, teman Yuda yang tampangnya ganjil. Usai ceramah Yuda dan Parang Jati diajak untuk menginap di rumah Lalita, demi melihat-lihat lebih banyak artefak dan dokumentasi.

Perkenalan Yuda dan Lalita ternyata nyaris membawa petaka. Ketika Yuda datang berkunjung kembali, rumah Lalita baru saja dirampok dan pemiliknya diperkosa. Sebab Yuda berada di waktu dan tempat yang salah, akhirnya polisi pun menggelandangnya pergi.

Demi menyelamatkan Yuda, akhirnya Parang Jati dan Marja pun melakukan perjalanan ke Borobudur untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada buku indigo.

Ceritanya ndak sesederhana itu sih…

2013-07-01 14.35.09

Untuk tahu di mana porosmu, titik nol-mu, kamu harus bisa melihat bayang-bayangmu. Bagi Yuda, poros tersebut merupakan axis mundi. Digambarkan dalam pertemuan Lingga dan Yoni.

Borobudur merupakan titik tengah. Dalam buku ini diceritakan sejarah Borobudur yang dulunya pernah jaya, hingga akhirnya tak lagi berharga. Dijarah dan dibiarkan. Sampai beberapa ilmuwan Belanda pun menyadari betapa bernilainya monumen tersebut.

Terdapat dua (kalau nggak salah) denah Borobudur di dalam buku. Kalau yang pernah ke sana, pasti bisa banget membayangkan seperti apa candi terbesar tersebut. Karena memang banyak banget bagian yang membahas tentang ini, juga tentang relief-reliefnya yang merupakan salinan dari beberapa kitab. Salah satu kutipan favorit gue yang terdapat di buku ini adalah “Borobudur mengajari kita bahwa jauh lebih banyak yang tidak kita ketahui tentang dia daripada yang kita ketahui.” (Borobudur: Golden Tales of Buddhas, John Miksic).

Seperti kebetulan, dua minggu lalu, gue baru aja menginjakkan kaki ke Borobudur. Awalnya gue nggak mau, tapi karena terpaksa, akhirnya ikut naik juga. Sebab waktunya terbatas, nggak banyak yang gue lihat. Gue cuma sempet menikmati salah satu lorongnya yang kebetulan sepi ketika gue lewat–menyenangkan sekali! Tapi sejak dulu gue memang terpesona pada Borobudur–rasanya magis ketika menginjakkan kaki di sana. Sebelum ini gue juga, sempat menulis tentang karakter di draf gue yang dapet kesempatan menginjakkan kaki di malam hari, menatap bintang merah di atas kepala mereka. Kemudian gue iri sama mereka, haha…

Kebetulan kedua, subuh tadi gue baca buku lain, Star Trek: The Eugenics Wars. Gue inget obrolan antara Sarina Kaur dan salah satu ilmuwan muda tentang ‘humanity‘–kemanusiaan. Di Lalita, gue menemukan bahasan yang sama dengan sudut pandang berbeda. Gue diem lama banget setelah itu. Tanpa poros, manusia akan terombang-ambing, begitu menurut Lalita.

Gue kutip obrolan Marja dan Parang Jati ini ya (hlm. 199):

Marja: Apa yang salah dengan rupa, Jati?

Parang Jati: Tidak ada yang salah, memang. Kecuali bahwa dia tidak abadi.

Marja: Justru itu. Apakah hanya karena sesuatu tidak abadi maka sesuatu itu tidak berharga?

Marja: Kalau orang tidak bisa menghargai sesuatu hanya karena tidak abadi, kukira itu justru… jahat. Itu mengingkati kemanusiaan. Sebab manusia memang tidak abadi. Kenapa kita tidak bisa menerimanya?”

Sementara itu, obrolan dalam bentuk lain di The Eugenics Wars.

Joel: I though we were working to help humanity!

Sarina: That depends on how you define “humanity”.

Sebenernya konteks kedua berbeda sih, Marja dan Parang Jati bicara kemanusiaan dari segi ‘kemelekatan’ dan ‘kesadaran sejati’, sementara Sarina dan Joel bicara kemanusiaan dari segi ‘surpass Nature‘. Tapi, intinya sama: mengingkari kemanusiaan.

Kesamaan-kesamaan yang terjadi itu, mungkin adalah bentuk sinkronisitas. Kebetulan kosmis. Sesuatu yang tidak berhubungan sebab akibat tapi berhubungan makna. Tapi kebetulan yang seperti macam itu hanya terlihat bagi orang-orang yang mencari makna. (hlm 192)

Membaca buku ini semestinya bikin bertanya-tanya. Meski memberi banyak hal baru, tapi pertanyaan yang datang juga sama banyaknya. Itu yang gue dapet setelah menutup lembar terakhirnya. Dibanding, Manjali dan Cakrabirawa, gue lebih menyenangi Lalita, terutama karena bahasan Borobudur dan spiritualismenya.

Hal yang gue sukai lainnya adalah ketika Ayu Utami mendeskripsikan tentang adegan seks. Kata-kata pilihan beliau indah banget, bikin gue tertegun, sama seperti saat baca Manjali dan Cakrabirawa. Secara keseluruhan memang juara banget sih diksi dan kalimat-kalimatnya. Rasanya, nggak ada bagian yang gue lewatkan, gue baca buku ini dengan tekun. Kata per kata. Kalimat per kalimat.

Lalita ini mungkin memang bukan bacaan semua orang ya. Sebab kalau nggak biasa dengan tema yang disajikan, bakalan menganggap bacanya harus sambil mikir. Padahal, kalau senang sejarah dan misteri, Lalita kayak harta karun kecil. Yang bikin habis ini pengin buru-buru balik ke Magelang, untuk nginjek Borobudur lagi dan ngiterin teras pertama untuk menyimak cerita Lalitavistara dan Jatakamala.

Dia yang tidak bisa melihat bayang-bayangnya sendiri, dia tidak akan mendapatkan pembebasan. (hlm. 232, 233)

Bogor, 13-7-2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s