Doctor Who / film / Resensi / Serial

An Adventure in Space and Time

Mata gue masih bengkak dan pedes ketika nulis ini. Dan ketika belum nulis, gue kepikiran banget untuk nulis, akhirnya gue curahkan dong di review ini. Hati-hati ya, ada spoiler.ūüėÄ

An Adventure in Space and Time (AAISAT) adalah biopik Doctor Who. Dalam rangka ulang tahun ke-50 serial televisi BBC, Doctor Who, seminggu terakhir hampir selalu ada acara berkaitan dengan serial tersebut. Dari marathon seri, The Science of Doctor Who, pemutaran ulang episode pertama Doctor Who, sampai puncaknya nanti malam, The Day of The Doctor.

Biopik ini ditulis oleh Mark Gatiss, yang dari dulu memang sudah jadi writer untuk Doctor Who (dan banyak orang kenal banget lewat Sherlock). Film televisi berdurasi sekitar 80 menit ini diputar di BBC One beberapa hari lalu, dan menyusul di region lainnya.

AAISAT berkisah tentang di balik layar pembuatan Doctor Who pertama kali. Dulunya, Doctor Who, bukanlah calon program keren, serial tersebut disiapkan cuma untuk mengisi slot tayang yang kosong. Oleh executive producer Sydney Newman (Brian Cox), dia menginginkan program edukatif untuk anak-anak. Lalu, muncullah ide untuk membuat tema time machine, agar bisa memuat sejarah dalam tayangan tersebut.

Dalam AAISAT, kisahnya berfokus pada Verity Lambert (Jessica Raine) dan William Hartnell/1st Doctor (David Bradley). Verity didapuk oleh Sydney untuk memproduseri program tersebut. Dia menjadi produser termuda dan perempuan pertama di BBC yang waktu itu masih dikuasai laki-laki. Dibantu oleh Waris Hussein (Sacha Dhawan) sebagai sutradara, mereka berdua pun membujuk William agar mau menjadi bagian dari show. Sifat optimis dan penuh keyakinan Verity, membuat William akhirnya pun bergabung.

David Bradley sebagai William Hartnell

Karena memang bukan program unggulan, Doctor Who, awalnya menemui banyak kesulitan. Dari dikasih studio yang tadinya cuma gudang, sampai desain TARDIS yang baru dibuat mepet waktu syuting. Verity awalnya udah mau nyerah, tapi Sydney berpesan: ‘bersikaplah layaknya produser’, akhirnya dia maju terus.

Episode pilot, ternyata nggak disukai oleh Sydney. Menurutnya, William sebagai Doctor terlalu galak. Akhirnya, William pun yang memang dikenal jutek mau syuting ulang dengan lebih melembutkan karakternya. Episode pertama Doctor Who pun akhirnya tayang, tetapi nggak disangka waktunya tepat setelah kejadian penembakan JF Kennedy. Episode pertama Doctor Who… gagal.

Di episode kedua, awalnya Dalek nggak disetujui oleh Sydney. Tetapi, akhirnya dengan keteguhan hati Verity, diloloskan juga. Episode kedua Doctor Who ini hasilnya mengejutkan banget, sepuluh juta penonton. BBC yang tadinya mau ngasih kesempatan cuma sampai empat episode, akhirnya meloloskan sampai bertahun-tahun.

Yak, tahun-tahun berjalan. Orang-orang yang terlibat di set udah saling dekat. Tetapi, itu nggak menghalangi satu persatu orang-orang yang terlibat di situ berlalu. Diawali oleh Waris. Kemudian Verity. Hal itu agak berpengaruh kepada William yang udah cinta dan bangga banget dengan Doctor Who. Terlebih kesehatannya mulai memburuk karena penyakit penebalan pembuluh jantung. Akhirnya, Sydney pun memutuskan untuk meneruskan Doctor Who, tetapi tanya William Hartnell.

Adegan penutup, adalah ketika episode regenerasi 1st Doctor ke 2nd Doctor, dan itu… bikin gue nangis sejadi-jadinya.

Oke, gue nangis lagi.

Mungkin, kayaknya lebay ya gue, nangis banget gara-gara nonton begini doang. Tapi, kalau memang cinta banget dan terinspirasi sama Doctor Who, rasanya nggak mungkin nggak nangis, seenggaknya berkaca-kaca deh. Skenario yang ditulis oleh Mark Gatiss terasa humanis banget. Ngeliatin banget kalau program Doctor Who itu nggak cuma sekadar program aja, tetapi jadi bagian dari kehidupan banyak orang. Itu pun, bukan hanya orang-orang yang terlibat langsung, tetapi mereka yang nonton juga.

Sisi kemanusiaan yang kuat itu dapet banget dengan pemilihan cast yang cocok banget. David Bradley yang meranin William Hartnell sebelumnya udah dikenal sebagai Mr. Filch (Harry Potter series) dan sosok yang dibenci orang sepenjuru Westeros, Walder Frey (Game of Thrones). Di AAISAT, beliau luar biasa banget meranin William Hartnell. Di beberapa adegan terakhir, beliau bahkan nggak banyak dialog, tetapi ngeliat matanya aja, gue tahu betapa berat dia ninggalin show tersebut. Jessica Raine, Sacha Dhawan, dan Brian Cox pun nggak tanggung-tanggung, semua adalah satu. Dan mereka semua keren banget.

Sacha Dhawan sebagai Waris Hussein dan Jessica Reina sebagai Verity Lambert (sumber: sfgate)

Latar tahun 60-annya pun dapet banget. Gue suka! Dari kamera-kamera jadul, sampai gaya rambut cewek-cewek. Hehehe… seru deh. Di sini juga, gue bisa tahu, ternyata menyiapkan sebuah program televisi itu nggak mudah ya.

Kekuatan AAISAT, selain di karakter, adalah di plot dan alurnya. Mark Gatiss bisa banget ngerangkai semuanya jadi enak banget dilihat dan menyentuh. Yep, adegan-adegan yang nunjukkin development character William, yang tadinya galak sama cucunya, sampai akhirnya dia sayang banget dengan anak-anak. Adegan di taman, ketika sekelompok anak SD ngedeketin dia untuk minta tanda tangan, itu… ya ampun, bikin terharu.

Gimana ngegambarin hubungan William dan teman-teman di set juga bagus banget.  William memang ketus, tetapi dibalik itu dia punya sisi lembut dan kayak kakek buat semuanya. Itu yang kayaknya bikin mereka semua jadi deket. Setiap ada orang yang pergi dari Waris sampai Verity, itu bikin patah hati banget. Ada adegan ketika William minta break syuting dan tetep manggil nama Waris, padahal Waris udah nggak jadi sutradara lagi. Juga, ketika Verity pergi, William ngerasa orang-orang di set udah nggak seperti dulu lagi. Bahkan mereka nggak tahu gimana cara ngidupin TARDIS! Sampai akhirnya, William turun tangan sendiri.

Salah satu adegan yang bikin nangis banget adalah ketika William nangis di depan perapian dan bilang nggak bisa pergi dari show itu. Dia bener-bener cinta dan berdedikasi dengan Doctor Who. Pas di adegan penutup, ketika hari terakhir William syuting, dia ngidupin TARDIS, dan kemudian muncul 11th Doctor (Matt Smith), mereka saling pandang dan Matt ikut bantu ngidupin tombol-tombol TARDIS… huaaaaa gue langsung nangis peluk bantal.

heartbreaking scene… (sumber: gawker)

Biopik ini brilian dan indah betul.

Adegan William dan 11th mungkin cuma beberapa detik, tetapi itu adalah puncak dari segala nostalgia. Kalau ada yang ngikutin show dari awal sampai sekarang, mungkin udah pasti tersentuh. Kayak kenangan masa kecil hidup lagi, kemudian bertahun-tahun apa yang jadi bagian masa kecil itu masih hidup, dan terus hidup. Harapan. Pada saat itu, di sana mungkin nggak ada yang nyangka kalau Doctor Who bisa bertahan selama ini.

Awalnya ekspetasi gue nonton ini, cuma karena pengin tahu sejarah dari Doctor Who sendiri, nggak nyangka malah larut banget dalam ceritanya.

Gue jadi inget dengan episode Vincent and The Doctor (series 5 episode 10), mungkin seperti itulah cerita ini. Kalau mau nonton episode Doctor Who yang bikin berlinang air mata, episode itu… episode itu pasti bikin nangis banget. Adegan ketika Doctor nunjukkin ke Vincent Van Gogh gimana orang-0rang sekarang mengidolakannya dan memuja karyanya, itu bener-bener… heartbreaking.

Humanis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, itulah yang bikin show ini bisa bertahan bertahun-tahun. Doctor adalah orang yang baik, yang ingin membuat orang-orang jadi lebih baik dan dia melakukan segala sesuatu dengan tujuan serta niat baik. Selama gue nonton, nggak pernah ada episode Doctor Who yang didasarkan untuk balas dendam atau membunuh orang, itu salah sekali bukan heart of the story. Petualangan, itu dasarnya, yang membuat show ini jadi punya segala kemungkinan.

Sejak pertama kali nonton, satu hal yang gue suka adalah setiap selesai nonton, gue ngerasa lega. Bukan cerita yang bikin dipikirin, renungannya ya muncul sambil ngerasa lega itu. Gue suka Doctor Who karena petualangannya, karena ceritanya yang sederhana, tapi kuat, dan menginspirasi, dan memberi harapan. Ya, itu sih.

Gue jadi inget apa yang 11th Doctor pesenin kepada Profesor Brian Cox (beda ya sama aktor yang meranin Sydney) di akhir The Science of The Doctor. Ketika Doctor nyuruh Brian untuk kembali dan ngasih kuliah sesuai jadwal, tapi dia ngeyel untuk tetep ikut Doctor.

“Well, there’s someone in your audience today, just an ordinary kid, so high, sad eyes. Look out for her, someone who loves to think why the sky is blue, and how bees can hover like helicopters, But, after today, she stops being ordinary, she grows up to be extraordinary. A woman who changes the world. ¬†And all she needed was a nudge from you.

“I do love humans. They can bit defeatist. You know, ‘mustn’t’, ‘can’t’…. Sometimes you just need a helping hand. ¬†Every adventure starts with a moment, a sparks.”

Gue berkaca-kaca denger itu.

So, happy 50th birthday, Doctor Who!

23/11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s