buku / film

The Giver

the giver

Aku baru dengar judul novel kesayangan komunitas sci-fi ini ketika film adaptasinya dirilis beberapa bulan lalu. Kembali situs-situs favoritku menyarankan: baca bukunya, baca bukunya, baca bukunya. Pada saat yang sama Gramedia pun menerbitkan terjemahannya.

The Giver digadang-gadang sebagai senior dari genre dystopia YA, seperti The Hunger Games dan Divergent. Akan tetapi, jangan berharap adegan aksi, konflik berlapis, dan cinta remaja seperti kedua judul di atas. Kekuatan kisah The Giver justru terletak pada kesederhanaannya dan penjabaran konsep yang lugas.

Menceritakan tentang Jonas yang tinggal di Komunitas. Kamu akan mencintai dan benci komunitas ini. Damai, teratur, nggak ada gontok-gontokkan, semua dapat kesempatan yang sama, dan nggak ada lagi perbedaan. Jonas di umurnya yang kedua belas tahun mendapatkan tugas sebagai Sang Penerima (The Receiver). Penerima akan meneruskan tugas dari Penerima sebelumnya, yaitu menyimpan memori.

Jonas pun memulai tugasnya. Oleh Pemberi (The Giver) sebelumnya dia mendapatkan memori demi memori. Tentang kereta luncur dan salju. Tentang hari natal dan rumah. Tentang perasaan dan kebohongan. Tentang luka, luka hati dan fisik. Dia bisa melihat warna-warna yang sebelumnya ada. Menamakan perasaan yang tadinya tak terungkapkan.

Pada dasarnya, The Giver menangkap banget yang disampaikan Orwell di 1984 dan menyampaikannya dengan lebih ringan juga sederhana. Sesuai dengan sasaran pembacanya yang remaja atau young adult. Meski sederhana seperti yang aku bilang, tetapi gamblang banget memberikan detail dan konsep dari Komunitas.

Di The Giver, yang ditekankan adalah kesamaan yang dipunya semua orang. Jonas yang mendapat memori, menyadari bahwa semestinya bukan seperti itu. Bahwa semua orang berhak untuk memiliki memori, mengingat apa yang terjadi, merasakan dan mengungkapkan apa yang dirasakan. Dia mencari cara untuk bisa berbuat sesuatu dengan ingatannya.

Hal itu juga, hubungannya dengan The Giver yang membuat cerita ini istimewa. Aku pernah membaca tentang artikel astronaut yang merasa bahagia sekaligus sedih berada di luar angkasa–itu karena dia nggak bisa berbagi secara langsung dengan orang-orang tersayang keindahan yang dilihatnya di atas sana. Sama setiap kali aku baca bagian Jonas dan Pemberi. Betapa, kesepian mereka karena nggak bisa berbagi memori itu begitu terasa. Jonas nggak bisa menceritakan itu kepada orang lain. Ketika ingin berbagi pun dia dihadapkan dilema dengan bagaimana jika perbedaan yang muncul malah membuat segala yang sudah rapi kembali chaos? Kelaparan? Kejahatan?

Selain itu, meskipun komunitas kelihatannya nyaman dengan segala jadwal dan peraturan-peraturan yang mengikat, justru itu yang bikin kelihatan ngeri banget. Kamu dikasih pasangan. Kamu dikasih anak. Kamu diatur kerja apa. Kamu diawasi. Kamu harus minum obat khusus untuk menekan emosi. Kamu nggak bisa lihat warna. Itu… mengerikan.

The Giver adalah buku yang harus kamu baca. Meskipun untuk remaja dan dituturkan sederhana, tetapi apa yang tersimpan di dalamnya begitu banyak. Meski tanpa aksi atau kisah cinta, The Giver memikat dan menghantui dengan caranya sendiri. Bayangkan jika kamu tak punya memori apapun selama hidupmu? Mengerikan bukan?

the giver movie

Film adaptasi The Giver

Adaptasi The Giver sama sekali nggak jelek. Dengan permainan warna, sutradara The Giver bisa menangkap perubahan yang terjadi pada Jonas. Latar yang dibuat pun diciptakan moderen, sesuai dengan masa rilis film. Kelihatan minalis dengan warna-warna yang kalem.

Hanya saja, adaptasi The Giver nggak berhasil menerjemahkan kengerian yang kutemukan dalam novel. Penambahan subplot dan konflik ke dalam jalan ceritanya, bikin adaptasi The Giver akhirnya nggak jadi spesial. Ditambahi cinta remaja dan pengkhianatan sahabat. Malah seragam dengan tema YA yang sudah-sudah. Meskipun gitu, aku bisa bilang ini lebih bagus daripada adaptasi Divergent. Lebih jelas mau ceritanya apa.

Adaptasi The Giver lebih enak ditonton setelah baca bukunya. Mungkin nggak terlalu sreg dengan hasil adaptasinya, tapi masih tetep bagus kok. Plotnya memang agak flat. Untungnya durasinya nggak terlalu lama.

Nonton adaptasi The Giver jadi opsional aja sih. Cocok untuk ngisi waktu luang dan cari tontonan yang nggak bikin mikir pas nontonnya. Tapi kalau baca bukunya, aku rekomendasiin banget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s