buku

Supernova: Gelombang

gelombang

Gelombang adalah buku kelima dari seri Supernova yang ditulis Dee. Perkenalanku dengan seri ini kira-kira sekitar tahun 2002 atau 2004 gitu, pokoknya udah selama itu. Ketika akhirnya, Dee kembali lagi dengan Partikel pada dua tahun lalu, dan langsung dilanjut Gelombang di tahun ini, rasanya sungguh antusias. Akhirnya, makin dekat ke ujung cerita, menguak apa sesungguhnya keterkaitan antara karakter dan tentunya misteri hilangnya Diva Anastasia.

Di buku kelima ini, Dee kembali dengan kecemerlangannya, terutama pada topik yang dibahas. Dari sejarah Batak di Sianjur Mula-Mula, megahnya Wall Street, hingga petualangan di Tibet dan dunia mimpi. Namun,semua itu nggak akan lengkap kemegahannya tanpa kehadiran pemuda Batak tampan nan cerdas dan menguasai berbagai bahasa, Alfa.

Dengan kemahiran beliau mengolah kata, kisah Alfa ini dituturkan dengan santai dan enak dibacanya. Sama sekali nggak bikin otakmu bercabang atau perlu bernapas untuk bikin darah ngalir kembali ke otak. Bisa disambi dengan ngelamun-ngelamun dan ngetwit gitu. Akan tetapi, tetap aja keseruan Alfa yang terjebak insomnia dan mimpi buruk bikin penasaran baca dari awal hingga akhir.

Alfa adalah anak yang berbeda, meski sama-sama suka baca Kho Ping Hoo dan ngisi TTS, rasanya nasib baik berpihak kepada Alfa karena ketika lahir ada si Jaga Portibi yang datang padanya. Sampai dewasa, sosok hitam berkerudung itu mengikuti dia dan hanya muncul saat genting saja. Alfa nyaris dibunuh dan kemudian dilarikan ke Jakarta. Dari Jakarta, Alfa langsung tancap gas ke Amerika Serikat. Di sana yang awalnya hanya imigran gelap pun berubah nasib sejak diterima di universitas TOP, terakhir puncak karirnya ada di Wall Street. Kesibukan Wall Street membuatnya tetap terjaga, tetapi pertemuannya dengan Ishtar (ini karakter yang kautemui di kisah Akar), mengubah segalanya. Dia bisa tidur tenang ketika itu, tapi sayangnya dia nggak bisa menemukan Isthar lagi. Alfa pun harus berjuang melawan mimpi-mimpinya yang selama ini menghantui. Belajar mengendalikan mimpi sampai ke Tibet. Bertemu Diva di alam mimpi.

Itu bagian terbaik, Diva di akhir dan Gio di awal. Dan ada lagi satu karakter yang uhuk silakan baca sendiri untuk tahu. Rasanya udah lebih dekat dan selangkah lebih dekat lagi sebelum bertemu semuanya. Namun, tentunya kita harus ngikutin perjalanan Alfa dulu.

Alfa adalah karakter paling ‘wah’ di seri Supernova. Mungkin, sebelas-duabelas dengan Ferre, namun karena Alfa dapet cerita sendiri, dia tetap aja jadi paling mewah, malah hampir sempurna. Ya, tapi itu juga dia dapet karena memilih untuk nggak tidur sebanyak orang umumnya. Jadi, waktu-waktu itu digunakannya untuk belajar dan bekerja. Buatku sendiri, Alfa karakter paling biasa-biasa saja dan nggak menarik sama sekali, charming sih, cerdas, dan segenap nilai ++ lainnya, tetapi justru semua itu yang malah bikin nilai Alfa kerasa standar seperti cowok-cowok novel lainnya.

Perjalanan Alfa sendiri, entah karena penuturannya yang maju terus tanpa mundur dan nengok ke belakang, jadi kerasa selow dan membosankan. Kurang gereget dan nggak menggemaskan. Dari kisah di Sianjur Mula-Mula yang menarik banget, tapi berujung jadi sekumpulan infodump karena nggak kepakai lagi di belakang, sampai cerita tentang dunia mimpi yang lagi-lagi sesungguhnya amat keren, terasa biasa saja buatku.

Padahal, ‘mimpi’ adalah salah satu topik yang aku suka banget. Aku penggemar berat dunia mimpi yang diciptakan Nolan dan Gaiman. Aku kagum Dee bisa benar-benar lepas dari pengaruh keduanya, membangun dunia sendiri yang unik dengan nama-nama yang beda (dan sulit diingat). Hanya saja, dunia mimpi Dee terasa samar-samar dan kurang teguh, sehingga dari Alfa aku hanya merasa diberi cerita, tetapi nggak ikut diajak untuk merasakan betapa ganjil dan uniknya dunia tersebut.

Dee pernah menjawab pertanyaan salah seorang pembaca mengapa dia nggak bisa connect dengan karakter Alfa. Beliau menjawab karena Alfa adalah orang yang tertutup banget. Ya, aku merasakan hal itu juga sih. Meskipun pakai sudut pandang orang pertama, pikiran Alfa susah dimasuki dan jadinya seperti tadi, aku nggak mendalami motivasi Alfa, aku nggak bisa simpati dengan Alfa, serta lebih sering aku hanya diceritakan, bukan diajak merasakan.

Alfa adalah karakter dengan keluarga paling lengkap beda dengan yang lain, aku berharap keluarganya punya andil besar juga dalam perjalanan Alfa, tapi peran keluarga Alfa hanya sampai di Jakarta saja. Karakter lain yang cukup menyita perhatian adalah Nicky dan karakter ini ngingetin aku banget sama Kugy di Perahu Kertas. Malah kadang-kadang berasa Kugy banget.

Konflik dalam Gelombang terasa lebih sederhana dan nggak njelimet dibanding yang lain. Karena teknik-teknik yang dipakai Dee untuk menciptakan dan menyelesaikan konflik si Alfa sudah pernah dipakai di buku-buku sebelumnya, ya atau pokoknya terasa familier begitu. Jadi, nggak terasa ada hal-hal mengejutkan.   Resolusi konfliknya pun… kayak di Supernova yang sudah-sudah pembaca diajak ikut bikin kesimpulan, justru di Gelombang malah pembaca harus mau terima-terima saja kesimpulan yang dibuatkan Dee.

Gelombang ini pun sangat kental nuansa fantasinya dibanding buku yang sudah-sudah. Aku benar-benar pengin menyukai Gelombang dan Alfa, tapi sampai aku nutup buku tetap saja nggak bisa terkoneksi. Mungkin aku dan Alfa ada di gelombang yang berbeda, jadi hanya bisa bersimpangan tanpa bisa saling terhubung.

Setelah baca Gelombang aku sempat diskusi dengan temanku yang juga sudah baca Supernova sejak lama, kita ngediskusiin kenapa nggak bisa nyambung sama Alfa dan kenapa cerita kali ini terasa biasa-biasa aja banget. Ada tiga jawaban yang kami simpulkan, pertama, ini adalah proses growing-up kami dengan seri Supernova; kedua, kami sudah banyak tahu dibanding dulu, beberapa tahun lalu ketika kali pertama terpana membaca Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, dan ketiga, Dee lestari pun berkembang seperti kami, tentunya ke arah yang lebih baik dibanding dulu. Meskipun aku dan temanku itu nggak cocok dengan Gelombang, kami akan tetap nunggu saat akhirnya mereka semua bertemu lagi.

Membaca Gelombang, apalagi setelah baca seluruh seri Supernova bikin ngerasa banget betapa kisah ini adalah satu mitologi besar yang megah. Dee menulisnya dengan apik, semakin ke sini makin banyak pembaca yang terjaring dan ikut masuk ke dalam dunianya. Gelombang ini pun lebih mudah dicerna dan dimengerti, dengan muatan yang lebih nggak memusingkan tetapi tetap kaya makna dan filosofi. Ah, tampaknya masih harus bersabar menunggu buku ke-6!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s